Protes, Demonstran Hongkong Korban Pelecehan Seks Polisi

Protes, Demonstran Hongkong Korban Pelecehan Seks Polisi

Aksi warga Hongkong memprotes pelecehan seksual polisi terhadap demonstran perempuan di tahanan. (foto - Reuters)

Hongkong - Ribuan  demonstran  Hongkong  kembali  menggelar  aksi  untuk  memprotes  polisi, yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap pengunjuk rasa perempuan di tahanan, pada Rabu malam.
 
Para demonstran menyebut aksi tersebut sebagai demo "#MeToo", para demonstran memadati Taman Chater, dengan tulisan "#ProtestToo" di lengan mereka yang ditorehkan dengan menggunakan lipstik.
 
Dilansir Reuters, Kamis (29/8/2019) mereka juga menyalakan lampu ponsel yang sudah dilapisi lembaran transparan berwarna ungu, sebagai tanda solidaritas dengan para demonstran perempuan.

Kepolisian Hongkong menyatakan, mereka selalu menghormati hak orang-orang yang ada di dalam tahanan. Mereka pun menyebut kabar mengenai pelecehan seksual itu sebagai "rumor" yang tak terbukti kebenarannya.
 
 
Salah satu aksi demonstran memprotes pelecehan seksual polisi terhadap perempuan di tahanan. (foto - AFP)
 

"Kami sudah melihat rekaman dan saya menekankan, rumor itu sama sekali tidak benar. Kami juga tidak menerima laporan formal atau keluhan apa pun," sebut kepala kepolisian setempat, Tse Chun-chung.
 
Sehari sebelumnya, pemimpin eksekutif Hongkong Carrie Lam sudah menyatakan, saat ini bukan waktu yang tepat untuk menggelar penyelidikan khusus, menyangkut dugaan pelecehan seksual tersebut.

Ia mengatakan, saat ini yang terpenting adalah menggelar dialog antara pemerintah dan para demonstran yang sudah menggelar aksi sejak awal Juni lalu. Awalnya, demonstran menuntut pemerintah membatalkan pembahasan rancangan undang-undang ekstradisi, yang memungkinkan tersangka satu kasus diadili di negara lain, termasuk Cina.
 

Para demonstran tak terima karena menganggap sistem peradilan di Cina kerap kali bias. Terutama jika berkaitan dengan Hongkong sebagai wilayah otonom, yang masih dianggap bagian dari daerah kedaulatan Beijing.

Berawal dari penolakan RUU ekstradisi tersebut, demonstrasi itu pun terus berkembang dan berkepanjangan, dengan tuntutan untuk membebaskan diri dari Cina. (Jr.)**
 
 
Situasi demonstrasi di pusat Kota Hongkong. (foto - USP)
 
.

Categories:Internasional,
Tags:,