Korban Tewas Keracunan Massal di Sukabumi Jadi 2 Orang

Korban Tewas Keracunan Massal di Sukabumi Jadi 2 Orang

Total ada 135 orang keracunan dirawat di sejumlah rumah sakit di Sukabumi. (foto - ant)

Sukabumi  -  Korban  tewas  diduga   akibat   keracunan  makanan  dalam  acara   tahlilan  di  Kecamatan  Bantargadung  Sukabumi bertambah satu orang. Korban bernama Dewi Agung (37), jadi sudah ada dua orang yang meninggal.

Keracunan massal terjadi pada Rabu 11 September kemarin. Polisi menyebutkan, sedikitnya ada 135 orang yang mengalami keracunan. Dewi Agung meninggal di RSUD Sekarwangi Cibadak. "Pasien atas nama Dewi Agung meninggal sekitar pukul 12.55 WIB," kata Humas RSUD Sekarwangi Ramdansyah, Kamis (12/9/2019).

Ramdan menjelaskan, pasien itu rencananya mendapatkan penanganan medis secara intensif di ruang ICU. "Kondisi infeksinya sudah berat, baru mau kita masukan ke ruang ICU," katanya.

RSUD Sekarwangi menangani 27 pasien sejak tadi malam dengan gejala keracunan. Sebagian sudah dipulangkan karena berangsur pulih. "Korban keracunan datang berbarengan. Namun ada yang masih di ruang perawatan anak dan dewasa. Pasien yang masuk rujukan dari Puskesmas Bantargadung," kata Ramdan.

Dua orang yang meninggal, yakni Rendi (9) dan Dewi Agung (37). Polisi tengah menyelidiki peristiwa keracunan massal itu. Penyebab keracunan diduga bersumber dari makanan yang dikonsumsi warga saat acara tahlilan di rumah salah seorang warga.

Seperti diketahui, ratusan warga Kecamatan Bantargadung Kabupaten Sukabumi mengalami keracunan makanan. "Jumlah korban 135 orang. Anggota kepolisian masih melakukan penyelidikan," kata Kapolres Sukabumi AKBP Nasriadi.

Menurut Nasriadi, korban mendapat penanganan awal di Puskesmas Bantargadung. Seiring banyaknya warga yang terdampak keracunan, akhirnya penanganan medis dilakukan di sejumlah rumah sakit berbeda.

"Sebanyak 18 orang dirujuk ke RSUD Sekarwangi Cibadak, kemudian 24 orang dirujuk ke RSUD Palabuhanratu serta 92 orang lainnya dinyatakan sembuh," katanya. Petugas medis Puskesmas Bantargadung menyatakan, perlu dilakukan pengujian sampel makanan yang dikonsumsi warga.

"Kecurigaan dan pengakuan dari pasien memang keracunan makanan, tapi hasil lab kita belum ada. Sampel muntahan dan feses juga belum ada," kata Ervina, salah seorang dokter Puskesmas Bantargadung.

Mengenai korban meninggal akibat keracunan yang sebelumnya sempat mendapat penanganan medis, Ervina menjelaskan hal itu tergantung pada kondisi kekebalan tubuh pasien. "Mungkin saat pengobatan pertama belum drop, tiba-tiba ketika daya tahan tubuh drop kondisinya melemah," katanya. (Jr.)**

.

Categories:Nasional,
Tags:,