Bandung Kota Termacet Asia, Rekayasa Jalan Pemkot Gagal

Bandung Kota Termacet Asia, Rekayasa Jalan Pemkot Gagal

Rekayasa jalan Sukajadi - Cipaganti dinilai gagal total. (foto - ist)

Bandung - Asian  Development  Bank  (ADB)  merilis  kajian  terbaru  soal  kemacetan  lalu  lintas  di  sejumlah  kota besar di kawasan Asia. Jakarta yang kerap disebut sebagai wilayah dengan lalu lintas paling macet di Indonesia, ternyata masih berada di bawah peringkat Bandung.

Berdasarkan kajian ADB tahun 2019, Jakarta berada di posisi 17 dengan skor di bawah 1.2. Sementara posisi Kota Bandung menjadi sorotan berada di peringkat 14. Selain memang disebabkan meningkatnya jumlah penduduk tiap tahun, kemacetan juga dipicu oleh sejumlah faktor lainnya.

Uji coba rekayasa jalan misalnya, belum lama ini Pemkot Bandung melakukan rekayasa Jalan Sukajadi - Cipaganti sejak Juli lalu. Namun, upaya pemerintah untuk mengurai kemacetan justru banyak mendapat respons negatif dari masyarakat.

Banyak di antara mereka yang mengeluhkan dampak dari rekayasa jalan tersebut lewat Instagram @humasbdg, @dishubkotabandung hingga @tmcpolrestabesbandung. Rekayasa jalan itu dinilai justru memicu kemacetan di sejumlah titik lainnya.

Sebut saja daerah yang terdampak dari rekayasa jalan tersebut, antara lain Jalan Cihampelas, Jalan Tamansari, Jalan Dago serta Pasteur. Alhasil tak jarang sumpah serapah dan keluhan dari para pengguna jalan menyeruak di tengah kepadatan arus lalu lintas.

Menurut salah seorang petugas Dinas Perhubungan Kota Bandung yang berjaga di Jalan Sukajadi, rekayasa ini memang masih akan terus dievaluasi. "Lihat dulu perkembangan, jika memang bagus, kita permanenkan. Namun jika masih ada yang kurang dievaluasi lagi," kata petugas Dinas Perhubungan Kota Bandung.

Menurut Wakil Walikota Bandung Yana Mulyana, pemkot kini tengah menggenjot pembangun sejumlah jembatan layang (flyover) sebagai solusi pengurai kemacetan. "Tahun ini Jalan Jakarta-Jalan Supratman dan Jalan Laswi-Jalan Pelajar Pejuang 45 mulai dibangun. Tahun depan dibangun flyover di wilayah Soekarno Hatta (Leuwipanjang - Kopo)," katanya, Senin (7/10/2019).

Ia menyatakan, sebuah flyover di wilayah Pasteur juga termasuk dalam proses pembangunan tahun depan. Pihaknya melalui Dinas Perhubungan dan Kepolisian hanya bisa melakukan rekayasa lalu lintas. "Pelebaran jalan sulit, sehingga rekayasa jalan jadi salah satu pilihan kami untuk mengurai kemacetan," tegasnya.

Sementara itu, kalangan DPRD Kota Bandung meminta pemerintah lebih serius dalam mengatasi masalah kemacetan. Sebab, sejauh ini belum terlihat langkah nyata yang disiapkan Pemkot agar masalah klasik itu terselesaikan.

Anggota Komisi C DPRD Kota Bandung Rendiana Awangga menyatakan, kemacetan memang masih menjadi masalah yang paling menjadi sorotan. Bahkan ia menyebutkan, Pemkot Bandung gagal dalam menyelesaikan masalah kemacetan.

"Kemacetan memang merupakan masalah klasik di kota besar dan metropolitan. Namun jika indikator yang dikeluarkan ADB, Kota Bandung menjadi termacet di Indonesia saya dapat menyimpulkan, Pemkot gagal menanggulangi permasalahan," tegas Awang.

Menurutnya, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab kemacetan. Pertama soal kedisiplinan pengendara, tidak seimbangnya antara volume kendaraan dengan ruas jalan. Namun yang paling utama kurangnya ketersediaan transportasi umum yang baik, dan dapat membuat masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum. (Jr.)**

.

Categories:Nasional,
Tags:,