LP3ES Kecam Arteria Dahlan Miskin Argumentasi dan Etika

LP3ES Kecam Arteria Dahlan Miskin Argumentasi dan Etika

Arteria Dahlan tunjuk-tunjuk Prof Emil Salim di acara Mata Najwa. (foto - ist)

Jakarta - Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Fajar Nursahid, mengkritik sikap politikus PDIP Arteria Dahlan saat berdebat dengan Prof. Emil Salim di acara Mata Najwa. Ada tujuh catatan yang diberikan LP3ES untuk Arteria.

Menurut Fajar, LP3ES menyayangkan cara Arteria berdebat dengan Prof. Emil Salim. Ia menyatakan, Arteria miskin argumentasi, bukti hingga etika.

"Mengecam cara Arteria Dahlan berdebat dengan Emil Salim, tidak hanya miskin argumentasi dan bukti, tapi juga miskin etika dan etiket. Penampilannya merefleksikan ketidakmengertiannya atas tiga kaidah penting yang harus dipatuhi dalam retorika," kata Fajar, Sabtu (12/10/2019).

Ia pun mengimbau Arteria belajar etika dan ilmu retorika agar memahami cara berdebat yang benar. Arteria pun membuat suasana politik keruh. "Mengimbau Arteria belajar etika dan ilmu retorika agar mengerti cara berdebat dengan benar dan dengan jiwa yang bersih. Demokrasi kehilangan kesejukan jika dunia politik diisi oleh anggota dewan yang terhormat semacam Arteria Dahlan," tegas Fajar.

Fajar pun menyesalkan sikap PDIP yang membiarkan Arteria menjadi 'juru bicara' partai terkait revisi UU KPK. Hal itu dapat menimbulkan blunder bagi PDIP sendiri. Ia mendesak Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR memanggil Arteria.

"Memilihnya sebagai juru bicara partai justru akan menjadi blunder bagi upaya PDIP dan pemerintah, untuk meyakinkan publik atas agenda mereka merevisi UU KPK. Kami minta PDIP dan fraksi di DPR untuk memanggil yang bersangkutan ke Badan Kehormatan DPR RI atas pelanggaran etika yang tidak pantas," katanya.

Sikap Arteria katanya, yang jadi perbincangan itu menjadi contoh bagi anggota DPR lainnya ketika berdebat di muka publik. Ia khawatir sikap minim etika seperti Arteria ditiru remaja yang menyaksikan acara debat.

Fajar meminta media menyeleksi para narasumber yang berkualitas untuk tampil dalam acara debat. "Dalam jurnalisme penting untuk kita memilih narasumber yang memiliki integritas, kredibilitas dan kualitas agar uraiannya bisa memberi pencerahan kepada publik, bukan justru menghadirkan kegelapan".

"Kami mengimbau kepada stasiun TV untuk selektif dalam memilih narasumber dalam acara mereka dengan memastikan, narasumber yang dihadirkan tidak hanya menguasai materi, tapi juga beretika dalam menyampaikan pendapatnya," lanjutnya.

Menyoal demokrasi Indonesia yang kini dinilai tengah berada di persimpangan jalan, ia menyebut demokrasi Indonesia saat ini seolah kembali ke zaman Orba. "Kami melihat siklus 20 tahunan di mana demokrasi berada di persimpangan jalan dan bersiap untuk melakukan putar balik (u-turn)," katanya.

Sepertinya kita kembali pada oligarki ala Orde Baru, di mana negara (parlemen, presiden dan alat negara lainnya) menjadi sangat kuat dan mendiktekan apa saja ke publik. Termasuk memaksakan perubahan revisi UU KPK," tambahnya. (Jr.)**
.

Categories:Nasional,
Tags:,