Tewaskan 35 Orang, Hagibis Badai Terburuk Sejak 60 Tahun

Tewaskan 35 Orang, Hagibis Badai Terburuk Sejak 60 Tahun

Wilayah Chiba porak poranda akibat terjangan Topan Hagibis. (foto - Reuters)

Tokyo  -  Menewaskan  hingga  lebih  dari  35  orang,  ratusan  lainnya luka-luka  serta  puluhan  ribu  warga  di  sejumlah  wilayah terpaksa mengungsi, hantaman Topan Hagibis disebut-sebut sebagai badai terburuk sejak 60 tahun terakhir yang pernah melanda Jepang.

Topan Hagibis merapat ke Jepang sebelum 19.00 waktu setempat (10.00 GMT), pada Jumat 11 Oktober 2019 di Semenanjung Izu, barat daya Tokyo. Saat ini, badai tersebut bergerak ke pantai timur pulau utama Jepang, dengan kecepatan angin 225 km/jam (140 mph). Lebih dari 270.000 rumah warga pun dilaporkan porak poranda.

Dilansir AFP, Minggu (13/10/2019) kantor berita Kyodo mengatakan, lima kematian telah dikonfirmasi di sejumlah daerah. Dua orang tewas setelah rumah disapu tanah longsor, dan seorang pria di Tomioka, Prefektur Gunma, dan seorang wanita di Sagamihara dekat Tokyo.

Seorang pria berusia 60-an ditemukan tewas di apartemen yang tergenang di Kawasaki, barat daya Tokyo, sedangkan seorang wanita terjatuh ke jalur air dan tenggelam di Tochigi. Korban lain, seorang pria berusia 50-an ditemukan tewas dalam sebuah mobil terbalik di Chiba.

Kyodo melaporkan, 11 orang dilaporkan hilang dan lebih dari 90 dilaporkan terluka akibat badai Topan Hagibis tersebut. Lebih dari tujuh juta orang telah diminta untuk meninggalkan rumah mereka di tengah peringatan banjir dan longsor yang parah. Diperkirakan hanya 50.000 mengungsi ke tempat penampungan.

"Hujan deras yang belum pernah terjadi sebelumnya mengguyur kota-kota di mana peringatan darurat telah diberikan," demikian diinformasikan prakirawan cuaca Badan Meteorologi Jepang (JMA) Yasushi Kajiwara. JMA telah memperingatkan, hujan deras dapat turun di daerah Tokyo antara tengah hari pada hari Sabtu dan Minggu.

Banyak layanan kereta telah dihentikan dan beberapa jalur di metro Tokyo dihentikan sejak hari Sabtu. Lebih dari seribu penerbangan ke dan dari Bandara Haneda Tokyo dan Bandara Narita di Chiba telah dibatalkan. Sementara dua pertandingan Piala Dunia Rugby juga dibatalkan karena alasan keamanan.

Longsor terjadi di Tomioka. (foto - Twitter)
 

Sementara itu, salah seorang warga James Babb menyatakan di Hachioji Tokyo barat, sungai di dekat rumahnya berada di ambang meluap. "Rumah kami mungkin banjir. Mereka memberi kami selimut dan biskuit".

Andrew Higgins, seorang guru bahasa Inggris yang tinggal di Tochigi utara Tokyo mengatakan, ia telah "melalui beberapa badai topan" selama tujuh tahun di Jepang. "Saya merasa kali ini Jepang secara umum, menganggap topan ini lebih serius," katanya.

Bulan lalu, Topan Faxai mendatangkan malapetaka di beberapa bagian Jepang, merusak 30.000 rumah yang sebagian besar belum diperbaiki. "Saya dievakuasi karena atap rumah saya robek oleh topan lainnya dan hujan turun. Saya sangat khawatir dengan rumah saya," kata seorang lelaki berusia 93 tahun kepada NHK, dari tempat penampungan di Tateyama Chiba.

Diketahui, Hagibis berarti "kecepatan" dalam bahasa Filipina Tagalog, dan itu bisa menjadi badai terkuat yang dihadapi negara itu sejak Topan Vera tahun 1959. Vera menghantam Jepang dengan kecepatan angin 306 km/jam (190 mph) dan menewaskan lebih dari 5.000 orang.

Pada Sabtu 12 Oktober 2019 sore, rekaman dan gambar menunjukkan beberapa sungai telah melewati tepian. Termasuk Sungai Tamagawa, yang mengalir melalui daerah perumahan di Tokyo. "Ada bagian di mana bank tanah tidak sepenuhnya dibangun. Kami telah mengatasinya dengan kantong pasir, tapi air tetap meluap," kata pejabat kementerian pertanahan Shuya Nakamura.

Sebelum badai menghantam, pihak berwenang menyarankan warga untuk menyiapkan persediaan makanan. Hal itu mengakibatkan habisnya stok produk di pusat perbelanjaan. Jepang memang diperkirakan akan mengalami sekitar 20 badai tahun ini, namun Tokyo tidak pernah mengalami musibah sebesar ini. (Jr.)**

Kondisi jalanan di pusat wilayah Kawasaki tak jauh dari Tokyo. (foto - Associated Press) 
 
.

Categories:Internasional,
Tags:,