48 Orang Tewas dalam Aksi Demo Anti-Pemerintah di Irak

48 Orang Tewas dalam Aksi Demo Anti-Pemerintah di Irak

Aksi demo anti-pemerintah di Irak menewaskan puluhan orang. (foto - Sky News)

Baghdad  -  Korban  tewas  dalam  unjuk  rasa  anti - pemerintah  kembali  pecah  di  Irak  sudah  mencapai  48  orang. Dalam menangani unjuk rasa tersebut, pasukan keamanan Irak dilaporkan menembakkan gas air mata dan peluru tajam.

Dilansir AFP, Sabtu (26/10/2019) unjuk rasa merupakan fase kedua dari gerakan anti-pemerintah, yang awal Oktober lalu digelar selama sepekan dan menewaskan 157 orang. Unjuk rasa kembali berlanjut dan berujung bentrokan, pada Jumat 25 Oktober waktu setempat.

Pada awalnya, aksi protes itu berjalan tertib pada Kamis malam waktu setempat. Para demonstran pun membagikan bunga kepada para personel keamanan yang mengawal jalannya aksi. Bahkan, Menteri Dalam Negeri Iran bersikeras menyatakan polisi akan 'melindungi' demonstran.

Namun, pada Jumat malam waktu setempat, demonstran yang berasal dari berbagai wilayah di Irak mulai melakukan aksi kekerasan. Awalnya 42 demonstran dilaporkan tewas, dengan separuh di antaranya sempat menyerang markas faksi bersenjata atau lembaga pemerintahan setempat.

Sejumlah sumber keamanan Irak melaporkan, 12 orang tewas di Kota Diwaniyah saat melakukan pembakaran di markas organisasi berpengaruh Badr, yang merupakan bagian dari pasukan paramiliter Hashed al-Shaabi yang populer di Irak.

Sebanyak 30 orang lainnya dilaporkan tewas akibat tembakan peluru tajam atau terkena tabung gas air mata, yang ditembakkan saat aksi protes di wilayah Baghdad dan empat provinsi Irak. Angka itu didasarkan atas laporan oleh Komisi HAM Irak.

Ada juga laporan yang menyebut beberapa orang tewas saat berusaha menyerbu markas kelompok faksi bersenjata lainnya, Asaib Ahl al-Haq. Hingga yang terbaru mencatat korban tewa sudah mencapai 48 orang.

Parlemen Irak dijadwalkan menggelar rapat khusus pada Sabtu waktu setempat untuk membahas situasi itu. Diketahui, aktivis setempat mendorong warga Irak kembali turun ke jalan untuk menandai setahun Perdana Menteri (PM) Adel Abdel Mahdi berkuasa.

Pada Jumat kemarin juga menjadi batas waktu yang ditetapkan ulama Syiah terkemuka Irak Ayatollah Besar Ali al-Sistani, terhadap PM Abdel Mahdi untuk menanggapi tuntutan demonstran. Unjuk rasa bertujuan melawan korupsi dan kesulitan ekonomi di Irak.

Dalam khotbah Jumat kemarin, perwakilan Al-Sistani mendorong demonstran dan pasukan keamanan Irak untuk saling menahan diri dan memperingatkan bahwa 'kekacauan' akan terjadi jika aksi kekerasan kembali terjadi.

Khotbah yang disampaikan Al-Sistani tampaknya menggaungkan paket kebijakan yang diajukan PM Abdel Mahdi. Termasuk kampanye antikorupsi, dorongan untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan peningkatan kesejahteraan sosial.

Namun demikian, para demonstran tidak yakin dengan janji PM Abdel Mahdi tersebut. "Adel Abdel Mahdi berbohong pada kita," teriak para demonstran di Baghdad. "Mereka semua berbohong ketika mereka menjanjikan pekerjaan untuk kita dan ketika kita berunjuk rasa. (Jr.)**

.

Categories:Internasional,
Tags:,