Kematian Baghdadi tak Setimpal dengan Derita kaum Yasidi

Kematian Baghdadi tak Setimpal dengan Derita kaum Yasidi

Perempuan komunitas Yazidi korban perbudakan dan pemerkosaan anggota ISIS. (foto - Reuters)

Kurdistan - Bagi  para  korban  penculikan  dan  perkosaan  anggota  ISIS, kematian  pemimpin  ISIS Abu Bakar Al Baghdadi tak berarti apa-apa. Keadilan-lah baginya ketika militan ISIS yang memperbudaknya itu dibawa ke meja hijau.
 
Seperti dituturkan Jamila (19), salah satu dari ribuan perempuan komunitas minoritas Yazidi yang diculik dan diperkosa anggota ISIS setelah melancarkan serangan di wilayah masyarakat Yazidi di Irak utara pada Agustus 2014.
 
"Kalau pun Abu Bakar Al Baghdadi mati bukan berarti ISIS juga mati," kata Jamila di kamp Sharya untuk pengungsi Yazidi di wilayah Kurdistan Irak. Kematian Baghdadi belum setimpal. "Saya ingin para laki-laki yang menculik, memperkosa saya dibawa ke pengadilan. Saya ingin kesaksian saya didengar di pengadilan dan menghadapi mereka di pengadilan. Tanpa pengadilan, kematiannya tak berarti apa-apa," katanya.
 
Dilansir Alarabiya, Baghdadi yang memimpin ISIS sejak 2010 meledakkan rompi bunuh diri setelah terpojok dalam penyerangan pasukan khusus Amerika Serikat di barat laut Suriah. Hal itu diumumkan, pada Minggu 27 Oktober oleh Presiden Donald Trump.
 
Bersama ribuan perempuan dan anak-anak, Jamila diperbudak militan ISIS dan dipenjara selama lima bulan di Kota Mosul bersama saudara perempuannya. Ia baru berusia 14 tahun saat ditangkap. Masalah tak berakhir setelah ia dan saudara perempuannya berhasil melarikan diri, mereka kabur saat penjaga mereka tengah pesta narkoba.
 
"Saat saya pertama kali kembali, saya mengalami gangguan saraf dan masalah psikologis selama dua tahun, jadi saya tidak bisa sekolah," katanya. Sekarang, alih-alih bekerja atau menyelesaikan sekolahnya, Jamila merawat ibunya di dalam tenda sempit.
 
"Ibu saya tidak bisa berjalan jadi saya harus tetap tinggal dan menjaganya, karena saudara kandung tertua saya berada di Jerman," aku Jamila. Harapan kembali ke kampung halaman di Sinjar Irak Utara tak lagi menjadi pilihan bagi Jamila dan masyarakat Yazidi lainnya.
 
Kota itu masih berada dalam kehancuran empat tahun setelah serangan ISIS. "Sinjar benar-benar hancur. Bahkan, jika kami bisa kembali, saya tidak ingin kembali karena kami akan dikelilingi tetangga Arab yang bergabung dengan ISIS, dan membantu mereka membunuh kami," tegasnya.
 
Ribuan pria diadili di pengadilan Irak karena berkaitan dengan ISIS. Sejauh ini Irak tak mengizinkan korban bersaksi di pengadilan, yang dinilai para kelompok hak asasi manusia akan menghambat proses penyembuhan korban.
 
"Sangat disesalkan tidak ada satu pun korban pelecehan mengerikan ISIS termasuk perbudakan seksual, yang mendapatkan kesempatan (bersaksi) di pengadilan," sebut peneliti dari Pemantau HAM Irak, Belkis Wille.
 
"Sistem peradilan Irak dirancang untuk memungkinkan negara membalas dendam massal terhadap pelaku, tidak memberikan pertanggungjawaban nyata bagi para korban," lanjutnya. Bagi sebagian dari hampir 17.000 Yazidi di kamp Sharya, kematian Baghdadi adalah langkah awal untuk mendapatkan keadilan, meski mereka masih takut terhadap anggota ISIS yang masih hidup.
 
Mayan Sinu (25) dapat memimpikan kehidupan baru, setelah dia dan ketiga anaknya mendapat suaka dari pemerintah Australia. Namun, Sinu pun menginginkan para pria yang menembak kaki suaminya dan menyeretnya diadili. Sejak kejadian itu suaminya menghilang.
 
"Saya berharap, Baghdadi jauh lebih menderita dari yang pernah kami rasakan, dan Ya Tuhan kami sangat menderita. Saya harap dia tidak meledakkan diri supaya saya bisa langsung membunuhnya dengan tangan kosong," katanya. (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:,