Wawan Raup Untung Rp 1,7 triliun Didakwa kasus Cuci Uang

Wawan Raup Untung Rp 1,7 triliun Didakwa kasus Cuci Uang

Sidang Tubagus Chaeri Wardana (Wawan), terdakwa kasus pencucian uang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. (foto - ist)

Jakarta - Adik  mantan  Gubernur  Banten  Ratu  Atut  Chosiyah,  Tubagus Chaeri Wardana  (Wawan)  disebut mendapatkan keuntungan ilegal lebih Rp 1,7 triliun, dari sejumlah proyek di Banten pada periode 2005-2012. 
 
Demikian dibeberkan dalam surat dakwaan jaksa KPK atas dugaan tindak pidana pencucian uang Wawan, yang dibacakan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Kamis (31/10/2019).
 
"Terdakwa lewat perusahaan yang dimilikinya dan perusahaan lain yang terafiliasi mendapatkan keuntungan dari proyek yang dimiliki atau dikuasai oleh terdakwa, atau penghasilan tidak sah dari beberapa proyek di beberapa SKPD Provinsi Banten dan sekitarnya," kata jaksa Titto Jaelani saat membaca surat dakwaan.
 
Rinciannya, tahun 2005 memperoleh sekitar Rp 54,7 miliar; tahun 2006 memperoleh Rp 51,97 miliar; tahun 2007 mendapatkan sekitar Rp 57,36 miliar; tahun 2008 mendapatkan sekitar Rp 123,9 miliar; tahun 2009 memperoleh sekitar Rp 213 miliar.
 
Kemudian tahun 2010 memperoleh sekitar Rp 150,4 miliar; tahun 2011 sekitar Rp 617,42 miliar dan tahun 2012 memperoleh sekitar Rp 455,21 miliar. Menurut jaksa, sebagian besar dari keuntungan itu diperoleh saat kakaknya, Ratu Atut, menjadi Gubernur Banten.
 
"Terhadap uang itu terdakwa dengan tujuan untuk menyembunyikan atau menyamarkan asal-usul harta kekayaan yang berasal dari tindak pidana korupsi. Sehingga dalam kurun waktu 22 Oktober tahun 2010 hingga September 2019, terdakwa telah melakukan perbuatan," kata jaksa.
 
Misalnya, menempatkan atau menransfer sejumlah uang yang diduga berasal dari tindak pidana korupsi pada rekening atas nama sendiri, orang lain, perusahaan Wawan dan perusahaan lain yang dikendalikan Wawan.
 
Kemudian, membelanjakan atau membayarkan beragam kendaraan bermotor dan aset tanah bangunan. Aset-aset itu dibelanjakan, dibayar dan dialihkan atas nama orang lain, Wawan sendiri dan perusahaan yang berafiliasi dengan Wawan.
 
Wawan juga disebut jaksa membiayai keperluan istrinya Airin Rachmi Diany dalam Pilkada Tangerang Selatan sebesar Rp 2,9 miliar. Lalu membuat perjanjjan pemborongan senilai Rp 7,71 miliar dengan PT Mustika Tri Sejati; membiayai kakaknya, Ratu Atut dalam Pemilihan Gubernur Banten Rp 3,8 miliar.
 
Selain itu, Wawan juga membiayai kakaknya Ratu Tatu dalam Pilkada Kabupaten Serang sekitar Rp 4,5 miliar; mengajukan kredit BNI Griya Multiguna sebesar Rp 22,45 miliar; mengajukan biaya proyek atau modal kerja ke BNI sebesar Rp 61 miliar.
 
Menyewakan satu unit apartemen di kawasan Mega Kuningan; menyimpan uang sebesar Rp 68,49 miliar, 4.120 dolar AS, 10 dollar Australia, 1.656 dolar Singapura dan 3.780 poundsterling di kantor perusahaannya PT Bali Pasific Pragama (BPP).
 
Ia juga disebut membayarkan sejumlah uang untuk dua polis asuransi atas nama dua anaknya yaitu, Ratu Ghefira Marhamah Wardana dan Ghifari Al Chusaeri Wardana. Hingga menyimpan uang operasional Stasiun Pengisian Bahan Bakar LPG dan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum atas nama perusahaan Wawan lainnya, yakni PT Java Coins sebesar Rp 2,545 miliar serta Rp 3,5 miliar. (Jr.)**
.

Categories:Nasional,
Tags:,