Aksi Mogok Lumpuhkan Paris Turis agar Jauhi Menara Eiffel

Aksi Mogok Lumpuhkan Paris Turis agar Jauhi Menara Eiffel

Suasana mencekam dalam aksi mogok massal serikat pekerja di Lapangan Place de la Nation Paris Perancis. (foto - Associated Press)

Paris - Kota  Paris  lumpuh  akibat  aksi  mogok  massal  serikat  pekerja  yang  menentang  kebijakan  Presiden  Emmanuel Macron untuk mereformasi sistem pensiun, Kamis 5 Desember waktu setempat.
 
Pemerintah Prancis mengantisipasi kemungkinan aksi mogok dimanfaatkan kelompok garis keras, guna memancing kerusuhan dan bentrokan dengan polisi. Penjagaan keamanan di sejumlah kota besar pun ditingkatkan.
 
Dilansir AFP, Kamis (6/12/2019) di Ibukota Paris lebih 5.000 aparat keamanan dikerahkan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan. Sebagian besar transportasi umum baik bus, kereta api dan penerbangan telah dibatalkan.
 
Sekolah pun ditutup karena kebanyakan tenaga pengajar ikut serta dalam aksi mogok. Sejumlah rumah sakit beroperasi dengan staf terbatas untuk ruang gawat darurat. Tenaga kesehatan dan dokter juga berpartisipasi dalam mogok massal.
 
Serikat pekerja merencanakan dua aksi pawai besar di Paris, yang akan bergabung di lapangan Place de la Nation. Kantor dan biro pariwisata memperingatkan, para wisatawan mancanegara agar menjauh Menara Eiffel.
 
Sejumlah media Perancis melaporkan, pemogokan itu bisa berlangsung selama beberapa hari. Aksi mogok massal besar yang pernah digelar tahun 1995 melumpuhkan Perancis selama berminggu-minggu. Pemerintahan saat itu akhirnya membatalkan agenda kebijakan yang menyulut protes.
 
 
Perjalanan kereta terhenti, sekolah diliburkan dan penerbangan dibatalkan. (foto - Teller Report)
 
 
Presiden Emmanuel Macron berencana mereformasi sistem pensiun karena terlalu mahal dan dinilainya "tidak adil". Saat ini memang ada banyak sistem pensiun di Prancis. Usia masuk pensiun bervariasi dari 55 tahun sampai 62 tahun.
 
Presiden Macron ingin sistem pensiun yang "universal", yang merupakan salah satu janji utamanya dalam kampanye. Namun serikat pekerja mengatakan, reformasi yang diusulkan  memaksa jutaan pekerja di sektor swasta untuk bekerja lebih lama di atas 62 tahun, sampai bisa menerima pensiun penuh.
 
"Momen kebenaran bagi Macron," demikian tulis harian Le Monde dalam edisi hari Kamis 5 Desember 2019. "Hari-hari berikutnya adalah ujian yang menentukan bagi kepala negara," sebutnya.
 
Emmanuel Macron yang ingin mencalonkan diri lagi sebagai presiden sedang menyiapkan berbagai langkah reformasi. Reformasi sistem pensiun hanya salah satu isu kontroversial, selain berbagai agenda kebijakan yang lebih sulit yang akan dilaksanakan dalam beberapa bulan ke depan.
 
Beberapa bulan lalu, gerakan protes "rompi kuning" yang terkadang berubah menjadi kekerasan, sempat menggoyang Perancis selama beberapa minggu dan berkembang menjadi gerakan anti-pemerintah. Kebijakan pemerintahan Emmanuel Macron sering dipandang "pro orang kaya".
 
Portal berita terbesar Perancis Mediapart menulis, "Hari besar pertama mobilisasi menentang reformasi pensiun sangat krusial, bagi pemerintah maupun serikat pekerja. Akankah demonstrasi dan pemogokan cukup kuat untuk meredam lajunya reformasi? Semua orang pun menahan napas". (Jr.)**
 
 
Aksi mogok serikat pekerja memadati sekitar Menara Eiffel Paris Perancis. (foto - Sky News)

.

Categories:Internasional,
Tags:,