62 Ribu orang di 302 Titik Lokasi Banjir Jabodetabek Ngungsi

62 Ribu orang di 302 Titik Lokasi Banjir Jabodetabek Ngungsi

Salah satu lokasi banjir di perumahan Bekasi Jabar. (foto - ist)

Jakarta  -  Badan  Nasional  Penanggulangan  Bencana   (BNPB)  menyebutkan,  sekitar  62.442  orang  dari  302  titik  lokasi banjir di wilayah Jabodetabek mengungsi sejak Rabu 1 Januari dinihari. Dari 302 titik pengungsian, dua titik paling padat yakni di Cipinang Melayu dan Cengkareng.

"Sementara untuk Kota Bekasi belum kami mendapat laporan karena tidak hadir rapat koordinasi," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Agus Wibowo saat menggelar Rakor Banjir Jabodetabek di Jakarta, Kamis (2/1/2020).

Namun, ia belum memerinci jumlah warga yang memadati barak pengungsian tersebut. Sementara jumlah korban jiwa atas musibah itu menurut catatan BNPB mencapai 16 orang. Data itu merupakan perhitungan sementara, sambil menunggu perkembangan situasi di lapangan.

"Secara keseluruhan terdapat 16 korban meninggal. Ini data sementara kalau di data Kemensos memang mencapai 26 orang. Ini yang sudah kami catat dan korban masih dalam pencarian," tegas Agus Waluyo.

Untuk mengevakuasi para korban banjir, BNPB memperkirakan, setidaknya diperlukan 134 unit perahu karet dengan 2.700 personel time evakuasi. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, tim dapur diperkirakan akan membutuhkan tenaga sebanyak 1.400 personel.

Sebelumnya Kepala BNPB Doni Monardo menjelaskan, banjir yang terjadi di Jakarta saat ini disebabkan oleh tingginya curah hujan. Hujan yang terjadi sejak Selasa 31 Desember malam hingga Rabu 1 Januari, yang merupakan rekor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

BNPB mencatat, ada 169 titik banjir di ibukota dan sekitarnya. Secara rinci, titik banjir terbanyak berada di Jawa Barat sejumlah 97 titik. Titik banjir di DKI Jakarta sebanyak 63 titik. Adapun, titik banjir yang terdapat di Banten sebanyak 9 titik.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat untuk waspada potensi hujan ekstrem hingga pertengahan Februari 2020. Yang terdekat, hujan ekstrem berpotensi terjadi pada 10-15 Januari 2020.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, hujan ekstrem tersebut terjadi karena aliran udara basah dari Timur Afrika yang masuk ke wilayah Indonesia. Aliran udara basah tersebut diprediksi masuk pada 10-15 Januari 2020 dan berulang.

"Siklus berulang pada akhir Januari hingga pertengahan Februari 2020," kata Dwikorita. Sejumlah wilayah yang diprediksi akan terdampak hujan dengan intensitas tinggi hingga ekstrem antara lain Sumatera bagian tengah dan Jawa. Cuaca itu juga diperkirakan akan melanda Kalimantan bagian selatan dan Sulawesi bagian selatan hingga tenggara. (Jr.)**

.

Categories:Nasional,
Tags:,