Petir Vulkanik Muncul Saat Gunung Taal di Filipina Meletus

Petir Vulkanik Muncul Saat Gunung Taal di Filipina Meletus

Penampakan petir vulkanik saat Gunung Taal di Filipina meletus. (foto - @ManaloMac)

Jakarta - Erupsi  Gunung  Taal  di  selatan  Filipina  diwarnai  semburan  asap  serta  petir  vulkanik.  Pihak  BMKG  Filipina, Phivolcs telah meningkatkan status gunung tersebut dari sebelumnya tingkat 4 menjadi tingkat 5.
 
Gunung vulkanik itu masih aktif dari dulu hingga sekarang. Namun letusan terakhir terjadi pada tahun 1977. Kini, gunung itu kembali meletus dan membuat langit Filipina kelam. Semburan abu dan kilat tampak menyalak saat meletus. Kilat yang dihasilkan gunung itu pun mencuri perhatian.

Berdasarkan unggahan BMKG Indonesia dalam akun Twitter-nya, Senin (13/1/2020) menyebutkan, fenomena kilat saat erupsi gunung meletus diberi nama Petir Vulkanik. Mekanisme terjadinya petir vulkanik dengan petir biasa tidak jauh berbeda.
 
Terjadinya petir saat erupsi gunung berapi tidak jauh berbeda dari mekanisme petir yang biasa. Hanya saja, awan cumulunimbus yang menjadi "sarang" petir tergantikan oleh awan kepulan uap air, abu, debu dan partikel vulkanik lain yang menyembur ke angkasa secara massif.

Petir itu sendiri terjadi karena adanya ionisasi atau pemisahan atom menjadi ion-ion yang bermuatan positif dan negatif. Sebab, adanya perbedaan ionisasi antara awan dan bumi atau dengan awan lainnya yang bergerak terus menerus.

Saat bergerak, muatan ion positif dan negatif akan berinteraksi. Ion positif dan negatif akan berkumpul membuat kubu yang berseberangan, sehingga terjadi pembuangan muatan dan terjadilah ledakan suara atau petir. Faktor yang membuat beda petir vulkanik adalah media awannya.
 
Kalau petir biasa berasal dari awan cumulunimbus, tetapi petir vulkanik berasal dari kepulan air, abu, debu serta partikel vulkanik lainnya yang menyembur secara massif. Ada beberapa teori yang memungkinkan terjadinya petir vulkanik.
 
Pertama, sebagian besar atom yang awalnya netral bertemu dengan banyak energi bebas yang disertai suhu sekitar 1.500 kelvin atau 14.726 derajat Celcius. Dengan adanya energi besar itu, elektron lemah akan terikat dengan elektron kuat.
 
Peristiwa itu akan menciptakan sejumlah ion positif dan negatif, sehingga akan ada cukup ion positif dan negatif yang membuat kubu. Pada saat dua kubu ini berjarak, muncullah beda potensial listrik yang menyebabkan sambaran petir.

Teori yang kedua, ketika gunung berapi meletus akan ada partikel abu panas, uap dan gas yang ikut keluar. Partikel tersebut awalnya netral, kemudian bertabrakan satu sama lain dan mentransfer muatan satu sama lain.

Muatan itu lalu berubah menjadi positif dan negatif. Tabrakan itu akan mengakibatkan ionisasi atau pemisahan muatan dengan proses yang disebut Aerodynamic Sorting. Setelah tahap itu, mekanisme pemisahan muatan positif dan negatif antara awan vulkanik dengan petir biasa pun tidak jauh berbeda.

Teori lain berpendapat, partikel yang lebih besar mungkin memiliki muatan positif dan partikel yang kecil memiliki muatan negatif. Partikel yang lebih besar akan jatuh lebih cepat dan membuat jarak yang menghasilkan petir.

"Penelitian menunjukkan, aktivitas erupsi gunung berapi bukan pemicu secara langsung terjadinya petir. Dengan demikian, meski terjadi erupsi utama, tidak berarti kejadian petir memiliki kuantitas yang paling besar," demikian cuitan BMKG. (Jr.)**
.

Categories:Internasional,
Tags:,