Proses Transformasi Memicu Polemik Wyata Guna Bandung

Proses Transformasi Memicu Polemik Wyata Guna Bandung

Terusir, puluhan mahasiswa Wyata Guna gelar aksi tidur di trotoar Jalan Pajajaran Bandung. (foto - ist)

Bandung - Polemik  penghuni  panti  disabilitas  netra  dengan Kementerian Sosial berawal saat Kemensos mengeluarkan Peraturan Menteri Sosial (Permensos) No. 18 Tahun 2018. Demikian hasil pemeriksaan Ombudsman RI terhadap dokumen administrasi Wyata Guna.
 
Pasalnya, Permensos menyebutkan, Kemensos tidak lagi punya kewenangan untuk mengurus penyandang disabilitas netra, yang telah menyelesaikan pendidikan dasar (SD) di lingkungan Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial.
 
Kepala Kantor Ombudsman RI Perwakilan Jabar Haneda Sri Lastoto menyatakan, Permensos No. 18 Tahun 2018 akhirnya berdampak pada SLBN A Kota Bandung, yang berada di dalam Kompleks Wyata Guna Jalan Pajajaran Kecamatan Cicendo.
 
"Dalam Permensos, rekan penyandang disabilitas netra tingkat SMP dan SMA yang menimba ilmu di Lingkungan Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial, akan jadi kewenangan Pemerintah Provinsi," sebutnya, Rabu (15/1/2020). Menurut Haneda, Permensos No. 18 Tahun 2018 turut berdampak pada status lahan SLBN A Kota Bandung dan pemenuhan kebutuhan asrama di Wyata Guna.
 
"Kami masih memeriksa dokumen, apakah Kemensos sudah melakukan serah terima pengelolaan tingkat pendidikan SMPA dan SMA di SLBN Bandung kepada Pemprov Jabar," katanya. Atau juga terdapat dokumen lain yang menunjukkan, bahwa Wyata Guna merupakan aset milik Kemensos yang diklaim oleh pihak lain," tegas Haneda.
 
Sebelumnya, sekitar 41 mahasiswa penyandang disabilitas netra menyandang status "alumni" Wyata Guna. Puluhan mahasiswa itu terpaksa melakukan aksi tidur di trotoar sejak Selasa 14 Januari, usai status mereka sebagai klien Wyata Guna dihentikan pihak pengelola lembaga sosial yang didirikan sejak tahun 1901 itu.
 
Salah satu klien aktif yang saat ini dipaksa menyandang status alumni, Tubagus Abim menyatakan, dirinya bersama 40 rekannya diminta keluar setelah Wyata Guna mengalami perubahan nomenklatur dari panti menjadi balai.
 
"Setelah Permensos No.18 Tahun 2018 diterapkan di Wyata Guna, otomatis hak penghuni panti dianggap selesai setelah berubah menjadi balai," katanya. Menurutnya, aksi tidur di depan trotoar Wyata Guna dilakukan agar Kemensos memberikan solusi bagi para mahasiswa yang masih ingin menjadi klien lembaga sosial itu.
 
"Kami bukan orang-orang yang meminta-minta untuk tinggal di Kompleks Wyata Guna, tapi kita memang tinggal di sana. Namun akhirnya kami terusir karena perubahan status panti Wyata Guna menjadi balai," katanya. (Jr.)**
.

Categories:Nasional,
Tags:,