Polisi Tangkap Penjual Anak di Kafe Kayangan Penjaringan

Polisi Tangkap Penjual Anak di Kafe Kayangan Penjaringan

Polisi segel Bar dan Kafe Kayangan kawasan Rawa Bebek Penjaringan Jakut. (foto - ist)

Jakarta - Pihak kepolisian menangkap seorang pelaku perdagangan anak di bawah umur di Bar dan Kafe Kayangan kawasan Rawa Bebek Penjaringan Jakarta Utara.
 
"Menyangkut adanya tindak pidana eksploitasi anak yang kemarin ada enam tersangka, hari ini berhasil kita amankan satu lagi," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Yusri Yunus di Polda Metro Jaya, Jumat (24/1/2020).
 
Menurut Yusri, pelaku akan langsung diperiksa secara intensif oleh penyidik kepolisian di Mapolda Metro Jaya. Apabila memenuhi unsur, pelaku langsung ditetapkan sebagai tersangka. "Mudah-mudahan bisa langsung dilakukan pemeriksaan, jika memenuhi unsur nanti akan ditetapkan tersangka," katanya.
 
Mengenai identitas pelaku, Yusri enggan membeberkannya karena masih menunggu hasil pemeriksaan. Ia hanya mengatakan, pelaku berperan untuk mencari anak di bawah umur untuk dijual ke lokasi prostitusi.
 
"Perannya dia itu mencari dan menjual. Inisialnya nanti saya sampaikan," lanjutnya. Seperti diketahui, pada Senin 13 Januai jajaran Polda Metro menggerebek Kafe Kayangan. Dalam penggerebekan itu polisi menangkap enam orang, dan telah ditetapkan sebagai tersangka.
 
Para tersangka itu diketahui berinisial R atau biasa dipanggil mami A, mami T, D alias F, TW, A dan E, semua tersangka ditahan di Rumah Tahanan Polda Metro Jaya untuk diperiksa intensif. Sedangkan korbannya adalah anak berusia sekitar 14 sampai 18 tahun.
 
Sementara itu, Kabag Bin Opsnal Dit Reskrimum Polda Metro Jaya AKBP Pujiyarto mengatakan, para korban dipaksa untuk melayani hubungan seksual dengan 10 laki-laki dalam satu malam.
 
"Dalam menjalankan aksinya pelaku sangat sadis, setiap korban satu hari minimal harus melayani 10 kali, bila tidak mencapai akan mendapat denda," kata Pujiyarto.

Para tersangka menjual anak-anak di bawah umur kepada laki-laki hidung belang sebesar Rp 150.000 setiap kali melayani. Nantinya, uang senilai Rp 90.000 diserahkan kepada tersangka yang biasa dipanggil mami. Sementara Rp 60.000 menjadi uang penghasilan korban.

"Apabila enggak mencapai 10 kali nanti didenda Rp 50.000 per hari," tegas Pujiyarto. Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Juncto Pasal 296 KUHP dan Pasal 506 KUHP, dengan ancaman hukuman penjara di atas 10 tahun penjara. (Jr.)**

.

Tags:,