Terbongkar, Wisata Seks di Kawasan Puncak Cisarua Bogor

Terbongkar, Wisata Seks di Kawasan Puncak Cisarua Bogor

Pengungkapan kasus tindak pidana perdagangan orang. (foto - ist)

Jakarta - Bareskrim  Polri  berhasil  membongkar  wisata  seks  di  kawasan  Puncak  Cisarua  Kabupaten  Bogor.  Sudah lebih dari 30 perempuan menjadi korban eksploitasi seksual dengan modus booking out (BO), kawin kontrak serta short time dari tahun 2015 hingga 2020.
 
Wisata seks tersebut dikenal di luar negeri. Bahkan, seorang Warga Negara Asing (WNA) sempat membuat video pendek dengan mewawancarai sejumlah pekerja seks komersial. Rekamannya diunggah ke Youtube.
 
"Mereka menggunakan bahasa Inggris. Disebutkan, di daerah Bogor Jawa Barat ada seks halal. Jadi ini beritanya sudah sampai ke internasional," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Raden Prabowo Argo Yuwono, Jumat (14/2/2020).
 
Kasus eksploitasi seksual itu terungkap oleh Direktorat Tindak Pidana Umum Mabes Polri, setelah mengamati potongan video. Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Pol Ferdy Sambo menyebutkan, lima pelaku ditangkap terkait kasus tersebut. Mereka Nunung Nurhayati dan Oom Komariah, yang berperan sebagai penyedia perempuan untuk dibooking.
 
"Satu orang (penyedia layanan) memiliki 20 sampai 30 orang pengikut jaringan, yang siap dipertemukan dengan WNA yang membutuhkan. Satu mucikari mendapatkan beberapa perempuan yang bisa dihubungkan dengan WNA," katanya.
 
Menurut Sambo, tersangka lainnya yakni H Saleh berperan sebagai perantara untuk mempertemukan Warga Negara Asing dengan PSK. Lalu, Devi Okta Renaldi menyediakan transportasi, serta Almasod Abdul Aziz Alim M alias Ali, sebagai orang yang memesan PSK tersebut.
 
Para pelaku sudah diperiksa. Berdasarkan keterangannya, satu perempuan yang dibooking satu sampai tiga jam dihargai Rp 500 ribu, dan untuk kawin kontrak selama tiga hari dihargai Rp 5 juta. Sedangkan untuk 7 hari dihargai Rp 10 juta. Penyedia perempuan akan mendapat 40 persen dari harga yang sudah disepakati oleh pemesan.
 
"Warga Negara Asing tujuan ke Indonesia untuk berwisata. Lalu, mereka ke puncak dan mencari wanita untuk kawin kontrak atau booking out atau short time. Puncak menjadi tempat kegiatan seperti tersebut," bebernya.
 
Ia menambahkan, perlu penanganan yang komprehensif secara bersama dengan stakeholder, sehingga penyelesaian isu yang cukup marak di dunia internasional terkait dengan wisata halal seks di puncak ini bisa diselesaikan. Dengan begitu, kawasan Puncak bisa menjadi wisata yang bagus, bukan dengan kegiatan yang melanggar hukum.
 
Para tersangka, dijerat Pasal 2 ayat 1 dan 2 UU No 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), dengan ancaman hukuman minimal 3 tahun dan maksimal 15 tahun. Sementara untuk PSK dititipkan ke Panti Rehabilitasi. (Jr.)**
.

Tags:,