Kerusuhan Berdarah India berlanjut 35 Warga Muslim Tewas

Kerusuhan Berdarah India berlanjut 35 Warga Muslim Tewas

Kerusuhan berdarah di India terus memanas masjid di kawasan Ashok Nagar pun dibakar. (foto - Associated Press)

New Delhi - Suasana  hening  di  dalam  masjid  kawasan  Ashok  Nagar  ibukota  India  New  Delhi  mendadak  pecah  oleh kedatangan segerombolan orang bersenjata, pada Selasa Februari malam.

Gerombolan bersenjata itu dengan brutal memukuli setiap orang yang tengah beribadah di dalam masjid. Tak lama kemudian tempat ibadah itu pun dibakar. Sejumlah muslim yang tengah beribadah pun menjadi korban kebrutalan mereka.

"Gerombolan itu membawa tongkat dan batu ke dalam masjid, sedangkan di luar ada pula yang bersenjata api. Seketika kami menghentikan sembahyang untuk menyelamatkan diri," sebut Abdul Samar, salah seorang warga muslim yang menjadi korban kebrutalan gerombolan tersebut.

Dilansir The Independent, Kamis (27/2/2020) imam di masjid itu pun dihajar hingga menewaskan seorang muazin. Selama menyerang, gerombolan itu meneriakkan Jai Shri Ram, Hidup Dewa Rama.

Di menara masjid, mereka pun menaikkan bendera berwarna saffron, yang terkait dengan lambang kelompok sayap kanan Hindu di India. Bendera itu baru diturunkan, Rabu pagi. Selasa itu pun merupakan hari ketiga bentrokan brutal sektarian di New Delhi, antara massa Hindu dengan kelompok Muslim yang mayoritas terkait undang-undang kewarganegaraan kontroversial.

Undang-undang yang diusung Partai Nasionalis Hindu Bharatiya Janata (BJP) dinilai diskriminatif setelah menyatakan, pemerintah menjamin kewarganegaraan bagi kaum minoritas kecuali Muslim.

India Today melaporkan, sejak bentrokan pada Minggu 23 Februari hingga Kamis siang sudah 35 orang yang tewas, bertambah 8 orang dari data Rabu malam. "Sediktinya 188 orang luka-luka dan dirawat di rumah sakit, sebagian besar luka tembak," ungkap pejabat sejumlah rumah sakit.

Ironisnya, bentrokan itu bersamaan dengan kunjungan Presiden AS Donald Trump ke India, yang disambut sangat meriah. Toko dan sekolah ditutup, dan jalan-jalan pun lengang sejak polisi melarang warga keluar rumah.

Sebelumnya Menteri Arvind Kerjiwal menyebutkan, selama tiga hari kekerasan itu berlangsung "mengkhawatirkan" dan mengatakan polisi telah kehilangan kepercayaan publik. Korban pun diperkirakan akan bertambah. "Tentara harus dipanggil dan jam malam diberlakukan di daerah yang terkena dampak (utara-timur kota)," katanya.

Hakim Mahkamah Agung termasuk di antara mereka yang mengkritik kegagalan polisi untuk menghentikan aksi gerombolan massa pro-pemerintah. Mereka memukuli warga muslim di jalan dan meneriakkan slogan nasionalis Hindu dan membakar toko serta rumah milik muslim. (Jr.)**

.

Categories:Internasional,
Tags:,