Rupiah Kian Terpuruk Nyaris di Level Rp 16.000 per Dolar AS

Rupiah Kian Terpuruk Nyaris di Level Rp 16.000 per Dolar AS

Rupiah Terus Melorot Nyaris Sentuh Level Rp 16.000 per Dolar AS. (foto - ilustrasi)

Jakarta  -  Nilai  tukar  rupiah terhadap  dolar  Amerika  Serikat  terus  merosot  di  perdagangan  Kamis  (19/3/2020).  Sore ini, rupiah ditutup di level Rp 15.912 per dolar AS, atau nyaris menyentuh level Rp 16.000 per dolar AS.

Berdasarkan data dari Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp 15.288 per doalr AS pada pagi tadi, atau melemah tipis dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di Rp 15.222 per dolar AS. Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, penyebaran wabah virus Corona yang makin mengkhawatirkan menyebabkan kepanikan pasar.

Hal itu membuat Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,5 persen. "Apa yang dilakukan oleh BI sudah mengikuti anjuran bank sentral global. Namun BI tidak bisa menjaga stabilitas mata uang rupiah akibat pasar yang panik, karena dinamika penyebaran virus Corona sangat cepat," katanya.

BI juga menurunkan suku bunga deposit facility sebesar 25 bps menjadi 3,75 persen, dan suku bunga lending facility turun 25 bps menjadi 5,25 persen. Ibrahim menyatakan, terus bertambahnya kasus positif Covid-19 membuat pelaku pasar menghindar aset berisiko, yang salah satunya mata uang rupiah.

"Rp 16.000 adalah level kunci, di mana jika terlewati maka rupiah akan terus melemah dan dalam kondisi saat ini wajar kalau rupiah bisa bertengger di 16.500 pada bulan April 2020," tegas Ibrahim. Rupiah pagi dibuka menguat di posisi Rp 15.288 per dolar AS. Rupiah bergerak di kisaran Rp 15.288 hingga Rp 15.913 per dolar AS.

Sementara itu kurs tengah Bank Indonesia menunjukkan, rupiah melemah menjadi Rp 15.712 per dolar AS dibanding hari sebelumnya di posisi Rp 15.223 per dolar AS.

Menanggapi terus melemahnya rupiah, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan pelemahan terjadi seiring dengan pelemahan mata uang negara berkembang lainnya. "Secara point to point harian melemah 5,72 persen," katanya.

Menurut Perry, kondisi itu akibat penyesuaian modal asing di pasar keuangan domestik pasca-meluasnya virus Corona. Investor asing bergerak lantaran ketidakpastian pasar keuangan global. "Dampaknya telah memberikan tekanan kepada nilai tukar rupiah, yang melemah sejak pertengahan Februari 2020," katanya.

Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah, sesuai dengan fundamentalnya dan bekerja mekanisme pasar. Oleh karena itu, pihaknya terus meningkatkan intensitas stabilisasi di pasar DNDF, pasar spot dan pembelian SBN dari pasar sekunder.

Untuk mendukung efektivitas kebijakan nilai tukar, Bank Indonesia juga terus mengoptimalkan operasi moneter. Hal itu untuk memastikan bekerjanya mekanisme pasar dan ketersediaan likuiditas baik di pasar uang maupun valas. (Jr.)**

.

Categories:Ekonomi,
Tags:,