Diperpanjang, Belajar Siswa dari Rumah di Jabar hingga 13 April

Diperpanjang, Belajar Siswa dari Rumah di Jabar hingga 13 April

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Jabar Dewi Sartika. (foto - disdik)

Bandung - Pemprov Jabar memperpanjang pelaksanaan Proses Belajar Mengajar (PBM) di rumah masing-masing hingga 13 April mendatang. Mekanisme pembelajaran menyesuaikan dengan kebutuhan para peserta didik.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Jabar Dewi Sartika, keputusan itu dituangkan dalam Surat Edaran Nomor 443/3718-Set.Disdik, tentang Penyelenggaraan Pendidikan Dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Covid-19 di Jabar, pada Jumat 27 Maret 2020.

"Kebijakan perpanjangan PBM dari rumah memperhatikan perkembangan terkini penyebaran Covid-19 di Jabar, sekaligus Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tanggal 24 Maret dan keputusan Gubernur Jabar," kata Dewi dalam keterangan persnya, Sabtu (28/3/2020).

Dalam surat yang ditujukan kepada Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I-XIII di Jabar, Dewi pun meminta mereka menginformasikan pengawas dan pihak sekolah untuk melaksanakan PBM dari rumah fokus pada pendidikan dan kecakapan hidup, antara lain mengenai pandemi Covid-19.

Pihak sekolah diminta agar aktivitas dan tugas PBM dari rumah melalui pembelajaran dalam jaringan (online) atau jarak jauh itu, dapat bervariasi antar peserta didik. "Sesuai minat dan kondisi masing-masing peserta didik, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses/fasilitas belajar di rumah," katanya.

Artinya, penugasan juga tidak diharuskan secara kuantitas sesuai jumlah jam pembelajaran reguler, namun cukup merepresentasikan mata pelajaran. Bukti atau produk aktivitas belajar dari rumah diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna bagi guru, tanpa diharuskan memberi skor/nilai kuantitatif.

"PBM (dari rumah) agar dilakukan secara kreatif, menyenangkan, melatih kemandirian, tidak menimbulkan kecemasan/kepanikan serta tidak memberatkan peserta didik maupun orang tua/wali," tegas Dewi.

Disdik Jabar pun sudah memberikan pedoman terkait tidak ada pelaksanaan ujian nasional (UN) SMP dan SMA sesuai dengan keputusan Mendikbud. Tentang penentuan kelulusan peserta didik didasarkan pada empat kriteria kelulusan.

Yakni menyesuaikan seluruh program pembelajaran, memperoleh nilai sikap/perilaku minimal baik, memiliki nilai Ujian Sekolah, dan memperoleh nilai sesuai Standar Kelulusan Minimal yang ditetapkan oleh Satuan Pendidikan.

Terkait Ujian Sekolah, pelaksanaan dapat dilakukan dalam bentuk portofolio nilai rapor dan prestasi, penugasan, tes daring dan/atau bentuk asesmen jarak jauh lainnya, tanpa mengumpulkan peserta didik di suatu tempat. Kecuali yang telah dilaksanakan sebelum keluarnya SE Mendikbud RI No. 4/2020.

"Ujian sekolah dalam bentuk tulis masih dapat dilaksanakan, dengan catatan peserta didik tidak dikumpulkan di sekolah/tempat lain, tetapi dilaksanakan melalui daring/jarak jauh," katanya.

Sementara itu, nilai Uji Kompetensi Keahlian (UKK) untuk siswa SMK diambil dari rata-rata nilai praktik semester 1-5 untuk SMK 3 tahun dan semester 1-7 untuk SMK 4 tahun. Sebagai ganti UKK tidak dilaksanakan sekolah dapat membuatkan Skill Passport.yakni sertifikat berisi nilai mata pelajaran produktif nilai-nilai dari kelas X, XI dan XII.

"Sekolah dapat melaksanakan dan memfasilitasi pelaksanaan uji sertifikasi kompetensi bagi peserta didik tahun 2019/2020, setelah mereka dinyatakan lulus sekolah serta situasi dalam masa darurat Covid-19 telah kembali pulih dan aman," katanya.

Terkait ujian akhir semester untuk kenaikan kelas menurut Dewi, teknis pelaksanaan diserahkan kepada pihak sekolah namun tetap memperhatikan SE Mendikbud RI No. 4/2020, dan tidak dilaksanakan dalam bentuk tes yang mengumpulkan siswa di satu tempat. (Jr.)**

.

Categories:Pendidikan,
Tags:,