Menghadapi Anak Gadis Sering Cekcok dengan Ibunya

Menghadapi Anak Gadis Sering Cekcok dengan Ibunya

Ilustrasi Foto.(Foto:Net)

Ny. Fatma (52) wanita karier, mengaku sering berselisih paham (cekcok) dengan anak gadisnya, Mita (17). Apa saja yang  diucapkannya, sepertinya sang anak menentang pendapatnya.
 " Padahal semua yang kita ajarkan demi kebaikan mereka. Anak zaman sekarang berbeda dengan zaman kakaknya, kalau kakaknya nurut semua  yang saya diskusikan, ini menghadapi Mita saya sampai elus dada saking selalu kesal menantang omongan," keluh Ny Fatma pada CikalNews.com saat dihubungi melalui telepon, Kamis (4/12/2014). 
Uni Maya (47) lain lagi ceritanya. Putri kecilnya yang dulu selalu menantang segala pendapatnya, justru saat memasuki usia remaja, berubah banyak diam dan nyaris pasif. 
"Justru karena dia banyak diam, saya suka bingung, apakah mengerti apa yang saya maksud atau diamnya adalah sebuah sikap tidak ingin menentang tetapi sekaligus tidak nurut," kata Uni Maya tentang putri bungsunya, Sasa (16). 
Bagaimana reaksi Siska (19) yang berterus terang bahwa, jarang berselisih dengan ibunya?  "Mama suka marah kalau aku pulang ke rumah agak larut malam. Padahal, mama tahu aku punya kesibukan organisasi selain aktif kuliah," ujar Siska curhat. Maunya Siska, ibunya mengerti posisinya sebagai ketua organisasi. 
Konsekuensinya pasti akan telat pulang. Apalagi menurut Siska organisasi yang diketuainya adalah bertaraf nasional dan kadang melibatkan sesama organisasi antar negara. 
Silang pendapat dan tidak satu haluan antara ibu dan anak ini sudah biasa dalam sebuah rumah tangga. Sejauh tidak ribut besar, sang ibu biasanya banyak mengalah. Karena sang ibu merasa, meski sering berselisih paham, anaknya merasa dekat dengan dirinya.  
Menurut data statistik, para remaja di Inggris lebih sering cekcok dengan ibu ketimbang dengan ayah mereka. 
Badan Nasional Statistik Inggris menunjukkan, 25% remaja berusia 16 tahun hingga 21 tahun cekcok dengam ibu mereka lebih dari satu kali dalam seminggu.
Hanya 16% dari kelompok usia tersebut bertengkar dengan ayah mereka lebih dari sekali dalam sepekan.
Kendati sering cekcok dengan ibu, para remaja ternyata juga lebih akrab dengan ibu daripada ayah. Sebanyak 67% responden mengaku lebih kerap berbincang dan curhat dengan ibu mereka.
Data statistik ini adalah hasil Survei Rumah Tangga Inggris yang menangkap informasi mengenai kondisi sosial dan ekonomi 40.000 warga Britania.

Cerminan keluarga

Lucie Russell, juru kampanye lembaga amal YoungMinds yang menangani kesehatan mental mengatakan data tersebut merupakan cerminan pola rumah tangga.
“Para ibulah yang biasanya lebih ada untuk para anak-anak remaja mereka. Data ini juga menunjukkan bagaimana kaum ibu lebih emosional dan terhubung dengan anak-anak remaja mereka,” kata Russell.
Di sisi lain, lanjut Russell, bukan berarti kaum ayah tidak punya peranan penting.
“Namun, sering kali sulit bagi para ayah untuk terhubung dengan anak mereka sehingga para ayah kurang terlibat dalam percekcokan dan perselisihan.” (Ode)**
.

Categories:Gaya hidup,