OJK Perkirakan NPL Perbankan Lebih Tinggi

OJK Perkirakan NPL Perbankan Lebih Tinggi

OJK Perkirakan NPL Perbankan Lebih Tinggi

Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan memperkirakan rasio kredit bermasalah (non performing loan/npl) industri perbankan pada akhir 2014 dapat lebih tinggi dibanding 2013, salah satunya karena ekses dari pelambatan pertumbuhan ekonomi ke sektor rill.

"Ini karena ada perlambatan pertumbuhan ekonomi saja secara keseluruhan," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Hadad di Jakarta, Jumat (5/12/2014).

Pertumbuhan ekonomi sepanjang 2104 yang melambat, salah satunya dikarenakan melesunya kinerja ekspor yang dipicu turunnya harga komoditas dan tidak meratanya pemulihan ekonomi secara global.

Muliaman mengakui bahwa penyaluran kredit, terutama kepada sektor yang mengandalkan ekspor komoditas berisiko mengalami peningkatan NPL hingga akhir 2014.

"Namun itu (Peningkatan NPL) tidak signifikan kok," kata dia.

Menurut dia, pelambatan ekonomi global sudah terindikasi sejak jauh-jauh hari, sehingga industri perbankan telah bersiap dengan upaya memitigasi risikonya.

Dari faktor domestik, Muliaman meyakini dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi hanya akan sementara, dan tidak akan signifikan meningkatkan risiko untuk penyaluran kredit. Dampak lanjutan dari kenaikan BBM bersubsidi pun, menurut Muliaman, sudah dimitigasi oleh industri perbankan.

"Inflasi kan hanya 'one shoot' (sekali waktu), dalam waktu 3-4 bulan sudah usai," ucap dia.

Hingga Desember 2014, kata Muliaman, NPL Gross masih berkisar di 2,2 persen hingga 2,3 persen. Sedangkan untuk "NPL net" masih berada kisaran 1 persen. (AY)

.

Categories:Perbankan,
Tags:bandung,