Trump Setengah Hati Menyoal larangan Teknik Tekan Leher

Trump Setengah Hati Menyoal larangan Teknik Tekan Leher

Protes 'I can't breathe' di Amerika Serikat atas kematian George Floyd. (foto - Associated Press)

Washington  -  Presiden  Amerika  Serikat  Donald  Trump  menyatakan  mendukung  teknik  tekan leher  untuk  menahan tersangka dalam penangkapan polisi dihapus. Namun ia menegaskan teknik itu sesekali diperlukan.

Sejumlah kesatuan polisi di AS telah melarang teknik yang disebut chokehold itu, sejak demonstrasi anti-rasisme besar-besaran terjadi setelah kematian George Floyd, pria Amerika keturunan Afrika yang meninggal di tangan polisi.

Floyd meninggal setelah seorang polisi menekan lehernya dengan lutut selama sembilan menit. Trump mengatakan, akan jadi "suatu hal yang sangat bagus" untuk melarang teknik tekan leher. Namun ia mengatakan, teknik itu sesekali diperlukan dalam beberapa situasi.

Dilansir Fox News, komentar Trump itu muncul bersamaan dengan upaya Partai Demokrat dan Republikan di Kongres AS untuk merinci RUU tentang reformasi kepolisian. Trump mengatakan, ide dari menghentikan pasukan polisi menggunakan teknik tekan leher terdengar "sangat polos, begitu sempurna".

Namun ia melanjutkan: "Jika seorang polisi dalam perkelahian yang buruk dan dia punya seseorang ... Anda harus berhati-hati. "Dengan itu dikatakan, saya pikir, hal yang sangat baik secara umum itu harus diakhiri," katanya. Ia mungkin membuat "rekomendasi yang sangat kuat" kepada pemerintah setempat.

Sejauh ini, aparat polisi yang berlutut di leher Floyd pun telah dipecat dan kini menghadapi dakwaan pembunuhan tingkat dua. Trump yang menghadapi kritik atas responsnya terhadap pecahnya demonstrasi antirasisme dan kebrutalan polisi mengatakan, ia ingin "melihat penegakan hukum yang kuat tapi benar-benar penuh kasih".

Ia melanjutkan, "ketangguhan kadang-kadang yang paling berbelas kasih". Dikonfrontir pewawancara Harris Faulkner untuk menjelaskan cuitannya di Twitter bulan lalu, yang menyebut "ketika penjarahan dimulai, penembakan dimulai", yang disensor oleh Twitter karena dianggap menglarifikasi kekerasan, Trump mengatakan "Ketika penjarahan dimulai, seringkali itu berarti akan ada... tentu akan ada kematian, akan ada pembunuhan. Dan itu hal yang buruk," katanya.

RUU tentang reformasi kepolisian diusulkan oleh partai oposisi Demokrat yang menguasai parlemen AS. Namun agar rancangan undang-undang itu bisa lolos harus mendapat dukungan dari Partai Republikan yang menguasai senat.

Ada potensi kedua partai mencapai kesepakatan tentang pelarangan teknik tekan leher dan penggeledahan paksa, seperti yang terjadi pada kasus Breona Taylor yang meninggal di tempat tidurnya, setelah ditembak polisi sebanyak delapan kali.

Sementara itu, dewan kota di Minneapolis, tempat Floyd meninggal mengeluarkan resolusi pada hari Jumat 12 Juni untuk menggantikan departemen kepolisiannya, dengan sistem keamanan publik yang dipimpin masyarakat. Itu terjadi beberapa hari setelah dewan memilih untuk membubarkan departemen kepolisian.

Menurut resolusi itu, dewan kota akan memulai proses selama setahun untuk melibatkan "setiap anggota masyarakat yang bersedia di Minneapolis" untuk menghasilkan model keselamatan publik yang baru.

Di New York, Gubernur Andrew Cuomo telah memerintahkan departemen kepolisian untuk melakukan reformasi besar. Cuomo mengatakan, ia akan berhenti membiayai pemerintah daerah yang gagal mengadopsi reformasi untuk mengatasi penggunaan kekuatan yang berlebihan, dan bias di departemen kepolisian mereka pada April mendatang.

Menurutnya, pihaknya akan menandatangani perintah eksekutif bagi kota untuk "menemukan kembali dan memodernisasi" departemen kepolisian mereka untuk memerangi rasisme. Catatan disiplin kepolisian akan dirilis ke publik dan teknik tekan leher akan menjadi tindak pidana, yang dapat dihukum hingga 15 tahun penjara. "Itu harus dilakukan di setiap kantor polisi di negara ini," kata Cuomo.

Dalam konferensi pers terungkap, Gwen Carr dan Valerie Bell, ibu Eric Garner dan Sean Bell merupakan dua lelaki kulit hitam tak bersenjata yang tewas dalam insiden dengan polisi. Garner meninggal ketika seorang polisi kulit putih menggunakan teknik chokehold padanya, saat melakukan penangkapan pada tahun 2014. (Jr.)**

.

Categories:Internasional,
Tags:,