Warga Bandung diizinkan gelar resepsi pernikahan saat AKB

Warga Bandung diizinkan gelar resepsi pernikahan saat AKB

Gelaran resepsi pernikahan di masa AKB. (foto - ilustrasi)

Bandung  -  Setelah  resmi tak memperpanjang  pembatasan  sosial  berskala  besar  (PSBB)  Kota  Bandung  saat  ini mulai memasuki fase adaptasi kebiasaan baru (AKB). Di masa AKB sejumlah sektor pun mendapat berbagai kelonggaran, termasuk salah satunya gelaran resepsi pernikahan.

Berdasarkan keterangan Sekda Kota Bandung sekaligus Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Ema Sumarna mengatakan, Pemerintah Kota (Pemkot) memperbolehkan warganya menggelar resepsi pernikahan di masa AKB ini.

Namun demikian, tentu saja dengan beberapa persyaratan. Resepsi pernikahan di gedung atau di rumah sekarang sudah boleh digelar. Jumlah tamu undangan yang diizinkan datang ke gedung resepsi di masa AKB ini dibatasi hanya 30 persen.

"Acara resepsi pernikahan pun tidak boleh dilangsungkan standing party. Artinya, tamu harus duduk dengan berbagai batasan, yang sudah ditentukan oleh wedding organizer," kata Ema, Jumat (26/6/2020).

Menyangkut distribusi makanan di acara resepsi pernikahan lanjut Ema, pihak penyelenggara acara wajib menyediakan makan yang sudah disajikan. Artinya, tamu undangan yang datang tidak diperkenankan untuk mengambil makanan sendiri (prasmanan).

"Distribusi makan tidak boleh antre tapi disajikan oleh pihak penyelenggara. Kemudian untuk memberikan ucapan selamat kepada mempelai dan keluarga, harus dilakukan secara cepat tidak berlama-lama," tegas Ema.

Sebelumnya, Walikota Bandung Oded M Danial menyatakan, Forum Aspirasi Pengusaha Jasa Pernikahan sudah menyiapkan protokol kesehatan yang sangat ketat, dan proses simulasinya pun sudah ditinjau Wakil Walikota Bandung Yana Mulyana.

"Kami sudah menerima asosiasi penyelenggara pernikahan dan sudah melakukan simulasi pernikahan dengan standar protokol kesehatan. Jadi, pernikahan di gedung diperbolehkan," katanya. Sementara untuk acara resepsi pernikahan di rumah pihaknya sudah membuat SOP protokol kesehatan yang dikeluarkan KUA di setiap kecamatan.

"Khusus untuk resepsi pernikahan di rumah, harus mematuhi SOP yang ditetapkan dalam Perwal berkoordinasi dengan KUA. Mengenai persentase tamu yang boleh hadir dalam resepsi pernikahan, yakni 50 persen dari kapasitas sesuai adaptasi kebiasaan baru," tegasnya.

Terkait kluster baru yang muncul di Semarang berasal dari kegiatan resepsi pernikahan Oded menyatakan, asosiasi sudah menandatangani fakta integritas dan siap melaksanakan protokol kesehatan yang ketat.

"Kita perlu memperhatikan psikologi masyarakat juga, yang mau mengadakan syukuran pernikahan. Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, kita berikan kebijakan dengan cara ajukan dulu, buat simulasi dan menandatangani fakta integritas sehingga kejadian di luar tidak terjadi di Bandung," katanya. (Jr.)**

.

Categories:Bandung,
Tags:,