Pejabat Pelindung Anak di Lampung 'Garap' Gadis 14 Tahun

Pejabat Pelindung Anak di Lampung 'Garap' Gadis 14 Tahun

Kepala Dinas Perlindungan Anak dan Perempuan Lampung Theresia Sormin tangani kasus perkosaan gadis. (foto - Dinas PPA Lampung)

Lampung  -  Seorang   gadis  ABG  berinisial  N  (14)  diduga  diperkosa  saat  seharusnya  mendapatkan  pendampingan psikologis. Ulah Kepala UPT Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Lampung Timur berinisial DA yang diduga memperkosa korban pun menuai kecaman.

Direktur YLBHI LBH Bandar Lampung Chandra Muliawan mengungkap identitas terduga pelaku, Selasa (7/7/2020). Perppu Kebiri pun diharapkan bisa menjerat pelaku.

Kejadian tersebut berawal ketika DA dilaporkan ke polisi karena diduga memperkosa N. Pelaku dengan inisial DA itu diduga memperkosa korban pada saat menjalani trauma healing. "Kita gerak cepat," kata Kabid Humas Polda Lampung Kombes Zahwani Pandra Arsyad.

Menurut Pandra, korban adalah seorang pelajar, yang berada di P2TP2A Lampung Timur karena dicabuli olah sang paman pada Januari 2020 lalu. Namun saat melakukan konseling korban diduga diperkosa oleh DA.

"Awal Januari ia mengalami pencabulan oleh pamannya, sehingga dilaporkan oleh orangtuanya ke Polres Lampung Timur. Dilakukan proses sidik UU tentang Perlindungan Anak, diputuslah pada Mei2020 kepada paman korban dihukum 13 tahun," katanya.

Tindakan bejat DA menuai sorotan tajam sejumlah kalangan. Mereka meminta DA diberhentikan dari jabatannya dan dihukum setimpal. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Menteri PPPA) Bintang Puspayoga juga angkat suara.

Ia mengingatkan DA bisa dijerat Peppu Kebiri jika terbukti melakukan tindakan pemerkosaan. Pelaku bisa dijerat dengan mengacu pada Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014, tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2016 (Perppu Kebiri).

Chandra mengatakan, korban kenal dengan pelaku DA saat didampingi di Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Lampung Timur. Pelaku DA menjadi pendamping korban karena menjadi relawan di P2TP2A.

Interaksi DA dengan korban terjalin cukup lama. DA yang semestinya membawa korban ke rumah aman (safe house), malah membawa ke rumahnya selama Januari 2020. "Pelaku mengaku petugas P2TP2A, dia ini pendamping dan korban akan diberi pendampingan psikologi. Korban dibawa ke rumah terlapor selama sebulan," ujarnya. (Jr.)**

.

Tags:,