Bebas Hukuman Mati di Saudi Eti pun Pulang ke Majalengka

Bebas Hukuman Mati di Saudi Eti pun Pulang ke Majalengka

Disnakertrans Jabar dampingi Eti untuk bertemu dengan pihak keluarga. (foto - Humas Disnakertrans Jabar)

Bandung  -  Seorang  Tenaga  Kerja  Indonesia  (TKI)  asal  Kabupaten  Majalengka  Jabar,  Eti  Ruhaeti  binti  Toyyib  Anwar yang menjadi tersangka kasus pembunuhan majikan sendiri Faisal bin Said Abdullah Al Ghamdi akhirnya pulang ke keluarganya.

Setelah sempat dikarantina selama 14 hari di Wisma Atlet Kemayoran Jakarta, Eti diantar petugas Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Tenaga Kerja RI disaksikan Pemprov Jabar diwakili Dinas Tenaga Kerja dan Transmigasi beserta PB NU.

Kepulangan Eti pun berlangsung haru. Diketahui, Eti dipenjara selama 18 tahun menanti hukuman qisas di Arab Saudi, setelah hakim memutuskan bersalah atas pembunuhan majikannya Faisal bin Said Abdullah Al Ghamdi.

"Proses kepulangan dilakukan dengan protokol kesehatan Covid-19," kata Kepala Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Jabar Rachmat Taufik Garsadi, Sabtu (1/8/2020).

Eti divonis bersalah bersama seorang warga negara India, Abu Bakar Kutil. Namun Eti bebas dari hukuman pancung, karena pihak keluarga memaafkan setelah syarat diyat 4 juta real atau Rp 15,2 miliar dipenuhi. Dana itu berasal dari pengumpulan dana rakyat Indonesia yang peduli dikoordinasikan KBRI Arab Saudi (Kemenlu) - PB NU (NU Care- Lazisnu).

"Pemprov Jabar juga menginisiasi pengumpulan dana dari para ASN dan berhasil mengumpulkan Rp 1,8 miliar," kata Rachmat. Di momen pertemuan dengan keluarga, Eti dan Kemenlu menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Gubernur Jabar, yang telah melakukan berbagai upaya termasuk memberikan kontribusi hingga Eti terbebas dari hukuman mati.

Eti saat tiba di Tanah Air disambut Kepala BP2MI - Menaker usai bebas dari hukuman mati di Arab Saudi.

Kasus Eti memberi pelajaran berharga bagi semua stakeholder terutama soal kesejahteraan pekerja migran. Menghindari kejadian serupa terulang, Pemprov Jabar bersama DPRD tengah merumuskan raperda tentang Penyelenggaraan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Jabar.

Perlindungan dimulai sejak sebelum bekerja atau pra kerja. Meliputi sosialisasi kepada calon pekerja migran di desa, pendampingan orientasi pra penempatan (OPP) dan peningkatan kompetensi.

Sedangkan perlindungan selama bekerja, meliputi monitoring penempatan pekerja migran melalui P3MI (Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia), serta menindaklanjuti pengaduan atau permasalahan di luar negeri bersama kementerian dan lembaga terkait.

Sementara pelindungan setelah bekerja, meliputi pemberdayaan purna PMI dengan memberikan pelatihan kewirausahaan dan pengembangan usaha. Hal itu dimaksudkan agar purna PMI bisa hidup mandiri. "Prosesnya masih berlangsung, mudah-mudahan cepat selesai," katanya. (Jr.)**

.

Categories:Nasional,
Tags:,