Maskapai Singapore Airlines Bakal PHK 4.300 Karyawan

Maskapai Singapore Airlines Bakal PHK 4.300 Karyawan

Maskapai Singapore Airlines Bakal PHK 4.300 Karyawan. (foto - SFGate)

Singapura - Maskapai Singapore Airlines Group bakal memangkas sedikitnya 4.300 karyawan yang bekerja di Singapore Airlines, Scoot dan SilkAir. Tak hanya itu, setengah rute penerbangannya pun akan dimatikan.

Dilansir situs resmi Singapore Airlines, CEO Singapore Airlines Goh Choon Phong menyebutnya hal itu sebagai keputusan tersulit dan paling menyakitkan. Sebab, ini kali pertama dilakukannya setelah 30 tahun bersama SIA.

Singapore Airlines menyatakan, pihaknya akan memangkas 4.300 stafnya. Mereka adalah pekerja yang terdampak Corona (Covid-19), karena dunia penerbangan sedang berada di titik nadir.

Maskapai itu juga mengatakan, hanya akan mengoperasikan kurang dari 50 persen dari rute penerbangan normalnya pada akhir tahun keuangan 20/21. Kepala eksekutif menyebut masa depan sangatlah menantang, dalam sebuah memo.

"Mengingat harapan menuju pemulihan akan menemui jalan panjang dan penuh dengan ketidakpastian, ini telah sampai pada titik di mana kami harus membuat keputusan yang sangat sulit untuk menerapkan langkah pengurangan staf secara tidak sukarela," sebut Goh.

"Diskusi telah dimulai dengan serikat pekerja kami yang berbasis di Singapura. Kelompok itu akan bekerja sama dengan mereka yang terkena dampak, untuk menyelesaikan segala sesuatunya secepat mungkin. Juga mencoba meminimalisir keadaan stres dan kecemasan pada orang-orang kami," katanya.

Hilangnya pekerjaan di Singapore Airlines disebabkan oleh maskapai yang membekukan perekrutan. Namun, sejumlah 2.400 pekerja lainnya memang harus dihentikan. Pemotongan pekerjaan itu mewakili hampir 15 persen dari total tenaga kerja maskapai Singapore Airlines.

Pemotongan bisa sangat masif mengingat saat ini hanya tersisa sedikit perjalanan udara domestik di Singapura. Diketahui, negara ini hanya memiliki lebar kurang dari 48 kilometer persegi. "Harus melepas orang kami yang berharga dan berdedikasi adalah keputusan tersulit dan paling menyakitkan, yang harus saya buat dalam 30 tahun saya bersama SIA," tegas Goh.

"Keputusan itu pun bukan cerminan atau dipengaruhi oleh kinerja dan kemampuan mereka. Namun, hasil dari krisis global yang belum pernah terjadi sebelumnya yang telah melanda industri penerbangan," tambahnya.

"Beberapa minggu ke depan akan menjadi yang terberat dalam sejarah SIA Group, karena beberapa teman dan kolega kita meninggalkan perusahaan. Kami akan melakukan proses ini dengan cara adil dan hormat. Dan melakukan yang terbaik untuk memastikan, mereka menerima semua dukungan yang diperlukan selama masa sulit ini". (Jr.)**

.

Categories:Ekonomi,
Tags:,