Tersangka Cabul di Bandara Soetta Dijerat Pasal Berlapis

Tersangka Cabul di Bandara Soetta Dijerat Pasal Berlapis

Rapid test di Bandara Soekarno Hatta Tangerang. (foto - ist)

Jakarta - Polisi menjerat tersangka Eko Firstson YS, oknum petugas rapid test di Bandara Soekarno - Hatta (Soetta) dengan pasal berlapis. Selain dijerat pasal penipuan, polisi juga menjerat tersangka dengan pasal pencabulan dan pemerasan.

"Ya, ia dikenakan pasal berlapis, yakni Pasal 289 KUHP tentang pencabulan dan atau Pasal 378 KUHP tentang penipuan dan atau Pasal 268 KUHP tentang pemerasan," kata Kasat Reskrim Polresta Bandara Soekarno Hatta Kompol Alexander Yurikho kepada wartawan, Kamis (24/9/2020).

Alex menyatakan, penetapan status tersangka terhadap yang bersangkutan dilakukan setelah penyidik melakukan gelar perkara dan mengumpulkan sejumlah barang bukti cukup.

Sejumlah barang bukti yang diamankan antara lain bukti transfer dari m-banking korban ke rekening tersangka dan kamera pengintai atau CCTV yang berada di lokasi kejadian. "Alat bukti yang dikumpulkan pada proses penyidikan mengarah pada penetapan tersangka," katanya.

Sejauh ini, polisi masih berupaya menangkap tersangka Eko. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus sebelumnya mengatakan, pihaknya sempat mendatangi tempat kos tersangka. Namun, yang bersangkutan tidak berada.

"Kita mengecek ke tempat kosnya sampai sekarang nggak ada. Mudah-mudahan secepatnya bisa ditangkap, sekarang tim sudah bergerak untuk melakukan penangkapan," kata Yusri. Meski begitu, ia memastikan, pihaknya telah mengantongi identitas lengkap tersangka.

Ia berharap, dalam waktu dekat ini tersangka akan segera tertangkap. "Tim sudah bergerak, memang cek dimana tempat kediamannya, kosnya sudah tidak ada. Tetapi kan data lengkapnya sudah kita dapati," katanya.

Eko sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka penipuan terhadap calon penumpang wanita berinisial LHI (23). Korban mengaku diperas dan dilecehkan secara seksual oleh tersangka saat tengah menjalani rapid test di Bandara Soekarno Hatta, menjelang keberangkatan menuju Nias.

Yusri mengatarkan, tersangka melakukan penipuan dengan menyebutkan hasil rapid test korban reaktif. Lalu tersangka menawarkan korban untuk mengubah data hasil rapid test dari reaktif menjadi non-reaktif, agar bisa melanjutkan perjalanan menggunakan pesawat.

Padahal kata Yusri, hasil rapid test korban sesungguhnya ialah non-reaktif. Namun demikian, tersangka melakukan penipuan dengan menyebutkan hasilnya reaktif untuk meminta sejumlah uang. "Memang bohong untuk bisa menipu korban dengan meminta uang Rp 1,4 juta," tambahnya. (Jr.)**

.

Categories:Daerah,
Tags:,