36 Orang Dibunuh Dengan Kampak di Uganda

36 Orang Dibunuh Dengan Kampak di Uganda

Foto ilustrasi.(Foto:Net)

Goma - Kelompok bersenjata asal Uganda yang bermarkas di bagian timur Republik Demokratik Kongo diduga mengeksekusi mati 36 orang dengan kapak, demikian pemerintah setempat menyatakan pada Senin (8/12/2014) WIB.
 
Pembunuhan massal tersebut terjadi di wilayah Beni, Provinsi North Kivu dan merupakan insiden terbaru dalam serangkaian peristiwa yang sama dengan pelaku yang menamakan diri Allied Democratic Forces (ADF).
 
Lebih dari 250 orang telah tewas sejak Oktober di wilayah yang sama. Para penyerang biasanya muncul pada malam hari dengan bersenjatakan kapak atau parang dan mulai membunuhi penduduk setempat, termasuk perempuan dan anak.
 
Wali kota Jean-Baptise Karnabu, yang dihubungi melalui telephon, emngatakan bahwa 36 orang tewas, dua orang terluka, sementara dua lainnya diculik.
 
ADF sendiri merupakan mantan pemberontak Uganda yang terusir dari tanah airnya pada 1995. Selama ini mereka merupakan pihak yang bertanggung jawab atas kerusuhan di Kongo dan sering memaksa penduduk setempat untuk bergabung.
 
Pada Januari lalu, pihak militer Kongo dan misi PBB MONUSCO, mulai melakukan operasi bersenjata terjadap ADF. Pada saat itu, pasukan pemerintah mengaku yakin telah mengalahkan para perusuh.
 
Namun ADF bangkit kembali saat Jenderal Kongo Jean-Lucien Bahuma meninggal karena serangan jantung pada Agustus. Bahuma adalah seorang taktikus brilian yang menjadi otak kemenangan pemerintah atas gerakan pemberontakan lain bernama M23.
 
Kebangkitan kembali ADF membuat sejumlah organisasi masyarakat sipil mulai berteriak. Civil Society of North Kivu, lembaga yang berkantor di Beni, mendesak militer Kongo dan pasukan MONUSCO untuk segera meningkatkan upayanya demi memulihkan keamanan.
 
Dalam sebuah pernyataan, lembaga itu mengaku "sangat terkejut atas terulangnya insiden pembunuhan massal." Warga setempat selama ini geram karena menilai tentara Kongo dan PBB terlalu pasif. Meski jam malam diterapkan, para pelaku pembunuhan massal pada umumnya berhasil melancarkan aksi pada malam hari tanpa harus bertempur dengan pasukan pemerintah ataupun MONUSCO.
 
Juru bicara angkatan bersenjata Celestin Ngeleka justru menyalahkan warga. Dia mendesak rakyat Kongo "untuk bekerja sama secara efisien dengan" tentara nasional.
 
Sejumlah pengamat mengatakan bahwa ADF tidak selamanya kejam terhadap penduduk lokal. Kelompok itu bahkan diduga berkolusi dengan pemimpin militer lokal dalam soal perdagangan ilegal. (AY)
.

Categories:Internasional,