Model Laporkan Dugaan Pelecehan Seksual Saat Pemotretan

Model Laporkan Dugaan Pelecehan Seksual Saat Pemotretan

Model JJ bersama kuasa hukumnya melapor dugaan pelecehan seksual ke Unit Jatanras Polrestabes Surabaya. (foto - ist)

Surabaya  -  Model   pemotretan  produk   sepatu  dan  baju  impor  Shoesmart   melapor  ke  Polrestabes  Surabaya Jatim. Ia merasa menjadi korban pelecehan seksual saat menjalani pemotretan di sebuah studio di kawasan Jalan Manyar Kartika.

Perempuan berinisial JJ (25) sedangkan orang yang dia laporkan berinisial ADT, yakni owner atau pemilik studio tempat pemotretan berlangsung. JJ melapor kasus tersebut ke Mapolrestabes didampingi kuasa hukumnya.

Ar Rahman, Kuasa Hukum JJ mengatakan kliennya melaporkan dugaan pelecehan tersebut ke gedung Reserse Kriminal (reskrim) Unit Jatanras Polrestabes Surabaya, Jumat (23/10/2020). Ia pun membawa sejumlah barang bukti.

Kurang lebih empat jam JJ diminta memberikan keterangan lengkap kepada petugas Unit Jatanras Reskrim Polrestabes Surabaya. "Klien saya sudah dimintai keterangan oleh penyidik, sekitar 25 hingga 30 pertanyaan," katanya.

Menurutnya, kliennya diduga menjadi korban pelanggar undang-undang ITE dan pornografi saat menjalani pemotretan produk sepatu dan baju, di tempat terduga pelaku studio foto Jalan Manyar Kartika I Nomor 52 Surabaya.

Secara kronologis ia menjelaskan, pada waktu tertentu saat pemotretan berlangsung JJ ganti baju di kamar ganti. Ketika ganti baju itulah di wastafel kamar ganti ada sebuah kacamata dan bolpoin yang diletakkan di atas buku.

Barang-barang itu pun dijumpai korban sejak awal hingga akhir sesi pemotretan saat korban beberapa kali berganti baju. Namun demikian, anehnya barang-barang itu selalu berpindah-pindah tempat.

"Kejadiannya kemarin. Jadi awalnya klien saya dapat tawaran jadi model pemotretan katalog produk dari terlapor pada 13 Oktober, lalu proses pemotretan itu berlangsung hari kemarin," katanya.

"Ketika ganti baju, klien saya curiga pada barang-barang tersebut. Bolpoin dan kacamata itu saat dipegang panas dan menyala ada warnanya. Kemudian diambil dan dimasukkan ke dalam tasnya," tambah Rahman.

Setelah itu, korban kembali melanjutkan prosesi pemotretan. Namun saat diperiksa di tasnya, bolpoin dan kacamata yang dia curigai CCTV atau alat perekam itu sudah tidak ada. Dari situ, korban menanyakan ke terduga pelaku, namun ADT beralasan ada meeting dan tidak bisa diganggu.

Bahkan, korban sempat mengajak ngobrol secara kekeluargaan tapi tetap tidak digubris. Sehingga korban melaporkan kasus itu ke pihak kepolisian.

Kanit Jatanras Polrestabes Surabaya Iptu Agung Kurnia membenarkan, adanya pelaporan JJ ke unitnya. Sementara itu kata Agung, sifatnya baru pengaduan dan akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

"Untuk saat ini sifatnya baru pengaduan, karena alat buktinya belum lengkap. Nanti kalau sudah lengkap akan ditindaklanjuti, seperti olah TKP sampai memanggil terduga pelaku untuk kita mintai keterangan," tegas Agung. (Jr.)**

.

Categories:Daerah,
Tags:,