Efek Samping Uji Klinis Vaksin Covid-19 Relatif tak Bergejala

Efek Samping Uji Klinis Vaksin Covid-19 Relatif tak Bergejala

Penyuntikan uji klinis vaksin Covid-19 Sinovac tahap III di Bandung. (foto - ist)

Bandung  -  Para  relawan  uji  klinis  vaksin  Covid-19 Sinovac  tahap III  yang  telah  menjalani proses  penyuntikan,  relatif tidak menunjukkan adanya gejala hebat dan hampir tidak ada yang mengeluh.

Berdasarkan keterangan Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Tahap III Sinovac Covid-19 Profesor Kusnandi Rusmil menyatakan, mereka yang mendapat suntikan hingga dua kali ada beberapa yang merasa panas dan demam, tapi tidak terlalu tinggi dan dalam dua hari gejalanya hilang.

"Mereka yang disuntik pada umumnya tidak menunjukkan gejala yang berarti, paling panasnya sedikit meninggi, demam pada 2 hari pertama tidak terlalu tinggi. Dalam dua hari pun sudah hilang gejalanya," kata Kusnandi, Senin (9/11/2020).

Bahkan, dari pengalamannya melakukan uji klinis vaksin Tetanus dan Difteri, maka efek samping uji klinis vaksin Sinovac Covid-19 tersebut dianggap lebih ringan. Sehingga tidak banyak keluhan dari para relawan.

Seperti diketahui, jumlah relawan vaksin Sinovac tahap III di Indonesia sebanyak 1.620 orang, yang mendapat suntikan pertama. Sedangkan mereka yang menjalani penyuntikan kedua sebanyak 1.602 orang.

"Hingga sekarang ini yang mengeluh hampir tidak ada. Bahkan dari pengalaman saya melakukan uji klinis Tetanus dan Difteri ini jauh lebih ringan, jadi tidak banyak keluhan dan semua oke," tegas Kusnandi.

Mengenai timbulnya kebingungan di kalangan masyarakat terkait kepastian uji klinis vaksin Kusnandi menegaskan, uji vaksin tahap III ini di Indonesia selesai pada Maret 2021.

Namjun demikian, perlu diketahui bahwa uji vaksin Sinovac tahap III itu juga dilakukan di belahan dunia lain. Antara lain di Brasil, India, Turki dan Afrika yang rata-rata selesai pada November 2020.

Artinya, jika merujuk pada uji vaksin di Indonesia yang dilakukan Biofarma, maka baru bisa digunakan paling cepat Maret 2021. Begitu pula jika Biofarma ingin mengeluarkan otoritas penggunaan darurat (Emergency Use Authorization), itu pun paling cepat bisa dilakukan pada Januari 2021.

"Dengan demikian, kalau kita mau mempergunakan vaksin tersebut pada bulan November 2020 itu bisa saja, tapi beli dari luar misalnya yang dibuat di Arab, Brasil atau Turki," katanya. (Jr.)**

.

Categories:Nasional,
Tags:,