Kandidat Vaksin Covid-19 Berhasil Tunjukkan Antibodi Awal

Kandidat Vaksin Covid-19 Berhasil Tunjukkan Antibodi Awal

Riset vaksin corona di Universitas Queensland. (foto - 9news)

Berisbane  -  Vaksin  Covid-19  potensial  yang  dikembangkan  oleh Universitas  Queensland  Australia  dengan  CSL  telah menunjukkan respons antibodi pada pengujian awal. Saat ini vaksin itu akan memulai tahap pengujian akhir.

"Vaksin terbukti aman melalui uji klinis tahap 1 dan terbukti menghasilkan respons antibodi yang positif," kata Menteri Kesehatan Australia Greg Hunt.

Dilansir Channel News Asia, Sabtu (14/11/2020) vaksin tersebut telah melakukan tugasnya. Terutama terjadi pada orangtua dan itu merupakan hasil yang sangat penting, mengingat kerentanan global terhadap orangtua di seluruh dunia dari Covid-19," katanya.

Menurut Hunt, vaksin tersebut lulus uji coba tahap akhir sehingga bisa siap untuk didistribusikan pada tahun 2021 mendatang. Pemerintah Australia sudah setuju untuk membeli kandidat vaksin yang dikembangkan Universitas Queensland itu sebanyak 51 juta dosis.

Selain itu, Australia akan membeli vaksin AstraZeneca yang dikembangkan oleh Universitas Oxford, apabil vaksin tersebut sudah lolos dari uji klinis tahap akhir.

Sebelumnya, Kepala Organisasi Kesehatan Dunia mengapresiasi kemajuan pesat riset vaksin Covid-19 yang gencar dilakukan. Kendati demikian, Ia mengingatkan agar semua negara harus menuai manfaat.

"Vaksin akan menjadi alat penting untuk mengendalikan pandemi, dan kami didorong oleh hasil awal uji klinis yang dirilis pada pekan ini," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Belum lama ini, farmasi AS Pfizer dan mitranya dari Jerman BioNTech mengumumkan kandidat vaksin mereka 90 persen efektif mencegah symptomatic Covid-19. Artinya, seseorang yang disuntik vaksin itu tetap bisa terinfeksi, namun tidak mengalami gejala.

Hal itu terekam dari uji klinis yang dilakukan dengan melibatkan lebih dari 40 ribu orang relawan. "Tidak pernah dalam sejarah penelitian vaksin berkembang sedemikian cepat. Kita harus mengaplikasikan urgensi dan inovasi yang sama, untuk memastikan semua negara mendapatkan manfaat dari pencapaian ilmiah itu," kata Tedros.

Sejauh ini, pandemi Covid-19 telah menewaskan hampir 1,3 juta orang di dunia dari 52,7 juta kasus positif. Namun, penghitungan itu mungkin hanya mencerminkan sebagian kecil dari jumlah infeksi yang sebenarnya. Sebab, banyak negara hanya melakukan tes swab terhadap mereka yang bergejala sedang dan berat. (Jr.)**

.

Categories:Internasional,
Tags:,