Unit Khusus Polisi Wanita Perangi Pelecehan di Bangladesh

Unit Khusus Polisi Wanita Perangi Pelecehan di Bangladesh

Protes meningkatnya kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual di banglandesh. (foto - Associated Press)

Dhaka  -  Kepolisian   Bangladesh  membentuk   unit  khusus  yang   beranggotakan   perempuan  guna  memerangi  dan menangani maraknya kasus pelecehan seksual. Hal itu untuk mengatasi kekhawatiran publik yang berkembang, tentang kekerasan berbasis gender.

Dilansir Aljazeera, Rabu (18/11/2020 diharapkan, unit tersebut akan mendorong lebih banyak perempuan untuk maju melaporkan pelecehan online. Termasuk apa yang disebut pornografi balas dendam, peretasan akun media sosial mereka dan ancaman online dari pemeras.

"Kami memiliki tim berbeda yang menangani kejahatan dunia maya di kepolisianNamun, banyak (perempuan) tidak ingin mendekati area ini, itulah mengapa kami telah membentuk tim yang semuanya perempuan," sebut Inspektur Jenderal Polisi Benazir Ahmed.

"Kami percaya, perempuan akan lebih nyaman untuk berbicara dengan tim yang semuanya perempuan. Unit itu pun tidak akan mengungkapkan nama-nama perempuan yang mengeluh, ini akan semakin mendorong mereka," lanjutnya.

Pengumuman tersebut datang ketika pihak berwenang menanggapi kekhawatiran yang berkembang di negara itu soal peningkatan kejahatan seksual, termasuk meningkatnya kasus pemerkosaan dalam beberapa tahun terakhir.

Aktivis hak perempuan Maleka Banu menyatakan, lonjakan pelecehan seksual online mencerminkan peningkatan tajam dalam penggunaan internet di negara Asia Selatan. Data resmi menunjukkan, jumlah orang yang online telah berlipat ganda selama lima tahun terakhir.

"Lebih mudah menargetkan perempuan secara online daripada di dunia nyata, yang Anda butuhkan hanyalah telepon," tegas Banu, Sekretaris Jenderal kelompok hak-hak wanita Bangladesh Mahila Parishad.

"Memulai unit polisi yang semuanya perempuan adalah langkah yang baik. Namun unit itu perlu diawasi dengan baik sehingga perempuan bisa menjangkau mereka, atau tidak akan membuat perubahan apa pun," tambahnya.

Pada bulan lalu, pemerintah memperpanjang penerapan hukuman mati bagi pemerkosa, menyusul protes yang dipicu oleh video online yang menunjukkan sekelompok pria melakukan pelecehan seksual terhadap seorang perempuan.

Hampir 1.350 perempuan diperkosa di Bangladesh dalam 10 bulan pertama tahun ini. Menurut kelompok hak asasi Ain o Salish Kendra, sekitar 100 lebih banyak dari jumlah pemerkosaan yang dilaporkan selama periode yang sama tahun lalu. (Jr.)**

 

.

Categories:Internasional,
Tags:,