Bank Dunia & IMF 'Engeuh' Bantu Relaksasi Utang 46 Negara

Bank Dunia & IMF 'Engeuh' Bantu Relaksasi Utang 46 Negara

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. (foto - dok)

Bandung  -  Pemimpin  negara  yang  tergabung   dalam  G-20   mengakui  dukungan  ekonomi  masih  perlu  dilaksanakan untuk bisa bangkit dari dampak pandemi Corona (Covide-19), meski adanya perbaikan pada kuartal III-2020.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan hal itu seusai mendampingi Presiden Jokowi dalam Konferensi Tingkat Tinggi G-20 secara virtual dari Istana Kepresidenan Bogor, Sabtu (21/11/2020).

Arab Saudi merupakan tuan rumah KTT G-20 tahun ini yang diselenggarakan secara virtual di ibukota Riyadh. KTT berlangsung 21 hingga 22 November 2020, mengangkat tema besar seputar penanganan Covid-19.

"Wunjudkan adanya pembalikan namun itu masih sangat awal dan rapuh, sehingga dalam pembahasan financial track agar kebijakan mendukung pemulihan ekonomi tetap dilakukan dan jangan ditarik terlalu dini," katanya.

Pembahasan di sektor keuangan dalam KTT G-20 kata Sri Mulyani, juga menyinggung mengenai pembiayaan penanganan Covid-19. Utamengmanya mengenai keterbukaan akses semua negara untuk mendapatkan vaksin.

"Akses vaksin penting karena tidak akan ada pemulihan ekonomi di seluruh dunia sampai seluruh negara dapat akses vaksin tersebut," tegas Menkeu. Selain persoalan itu, KTT G-20 juga membahas mengenai inisiatif penangguhan pembayaran utang.

Inisiatif tersebut diberikan untuk memberikan fasilitas relaksasi bagi pembayaran utang negara-negara miskin. Oleh karena itu, dalam pembahasan debt service suspension initiative yang juga didukung oleh lembaga multilateral seperti IMF dan Bank Dunia, menyepakati untuk memberikan relaksasi cicilan utang.

"Tadinya hanya sampai akhir tahun 2020 ini, namun kemudian diperpanjang hingga pertengahan tahun 2021. Hal itu berujuan agar negara berpendapatan rendah akan bisa dapat ruang fiskal untuk bisa menangani Covid-19," katanya.

Mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu mengemukakan, dari inisiatif tersebut telah disepakati untuk menunda pembayaran utang 46 negara, dari total 77 negara yang memenuhi kriteria masuk inisiatif tersebut.

"Untuk mendukung negara miskin agar mereka memiliki ketahanan lebih dalam menangani Covid-19. Selain itu, disepakati juga agar treatment terhadap utang bisa disamakan antara negara-negara yang selama ini tergabung dalam Klub Paris maupun yang di luar Klub Paris". (Jr.)**

.

Categories:Ekonomi,
Tags:,