Indonesia Tak Bisa Cari Solusi Ketergantungan Impor Kedele

Indonesia Tak Bisa Cari Solusi Ketergantungan Impor Kedele

Perajin tahu tempe menjerit stop produksi dan penjualan. (foto - ist)

Bandung  -  Kalangan perajin  tahu  tempe  menjerit  akibat  melonjaknya  harga  kacang  kedele  belakangan  ini.  Bahkan, tidak sedikit perajin yang sudah tidak mampu memproduksi karena tidak bisa lagi menyediakan kedele.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Bandung Elly Wasliah mengakui, sejak tiga bulan terkahir ini harga kacang kedele memang mengalami kenaikan. Kedele yang merupakan komoditas impor khususnya dari Amerika Serikat naik, terkait dengan pergerakan harga kedele dunia yang terus merangkak.

Selain itu menurut Elly, kenaikan juga terjadi karena pasokan kacang kedele ke Indonesia semakin berkurang, setelah Cina meningkatkan impor dari AS. "Cina pada Desember kemarin meningkatkan impor 2 kali lipat dari AS sejak Desember lalu," kata di Bandung, Sabtu (2/1/2021)

Cina dari biasanya mengimpor kedele dari AS untuk memenuhi kebutuhannya sebanyak 15 juta ton meningkat menjadi 30 juta ton. Dengan demikian, pasokan dari AS ke sejumlah negara lain termasuk Indonesia menjadi berkurang.

Elly menyatakan, harga kacang kedele di Indonesia dalam tiga bulan terakhir ini naik cukup signifikan mencapai sekitar 9 persen. Pada Oktober harganya masih Rp 7.200 per kg, November naik sampai Rp 9.000, Desember naik lagi jadi Rp 9.300 hingga Rp 9.500 per kg.

Sebenarnya lanjut Elly, berdasarkan data Asosiasi Importir Kedele Indonesia (Akindo), stok kedele di gudang mencapai 450 ribu ton. Sementara kebutuhan kedele untuk para perajin tahu tempe di dalam negeri hanya 150 hingga 160 ribu ton per bulan.

Artinya, stok kacang kedele di Indonesia aman hingga tiga bulan ke depan. "Jadi hitungan dari Kementerian Perdagangan, stok kacang kedele yang ada di gudang Akindo cukup untuk tiga bulan ke depan," tegas Elly.

Sebelumnya, akibat naiknya kacang kedele para perajin tahu tempe di sejumlah daerah utamanya di Jabodetabek dan Kota Bandung melakukan aksi mogok produksi dan mogok dagang selama 3 hari, dari tanggal 1 sampai 3 Januari 2021.

Para perajin yang tergabung dalam Paguyuban Perajin Tahu Tempe Kota Bandung kembali bakal memproduksi dan menjual tahu tempe, mulai Senin 4 Januari 2021 meski harga dinaikkan. (Jr.)**

.

Categories:Ekonomi,
Tags:,