Film Salisiah Adaik Nominator Piala Maya 2014

Film Salisiah Adaik Nominator Piala Maya 2014

Film Salisiah Adaik Nominator Piala Maya 2014

Padang Panjang - Film "Salisiah Adaik" karya mahasiswa Jurusan Televisi Institut Seni Indonesia Padang Panjang, Sumatera Barat (Sumbar), Ferdinand Almi, menjadi nominator Piala Maya 2014 untuk kategori Film Daerah Terpilih tahun ini.
 
Ferdinand Almi sendiri ketika dihubungi di Padang Panjang, Selasa (9/12/2014), menyampaikan rasa bangganya atas terpilihnya Film "Salisiah Adaik" masuk dalam nominasi penghargaan di tingkat nasional, apalagi film yang bercerita tentang perbedaan adat yang dimiliki oleh beberapa daerah di Minangkabau.
 
"Kami ingin mengangkat sesuatu perbedaan adat yang dimiliki oleh beberapa daerah di Sumbar, terutama adat perkawinan yang ada di Pariaman dengan adat di Limapuluh Kota. Apalagi, perbedaan kedua adat tersebut sangat bertolak belakang satu sama lainnya," katanya.
 
Masuk nominasinya Film "Salisiah Adaik" karya sineas muda asal Sumbar itu, untuk 30 kategori antara lain Film Panjang Terbaik, Film Pendek, Dokumenter, Animasi, Film Daerah, dan unsur-unsurnya seperti Sutradara, Aktor, Aktris, Musik, Editing, Kamera, Tata Suara, Artistik, Efek dan lain-lain.
 
Piala Maya adalah Festival Film untuk Film Indonesia yang digagas media Film Indonesia, yang tahun ini diselenggarakan untuk ketiga kalinya.
 
Penjurian Festival Film Piala Maya menggunakan tiga sistem Komite yakni Komite Seleksi dari kalangan masyarakat dan pencinta film, Komite Kategorisasi dari kalangan pelaku industri film dan sineas dan Komite Umum dari kalangan tokoh masyarakat, praktisi dan ilmuwan.
 
Piala Maya adalah festival film yang tahun ini mengusung tema "Cinta Cita Cipta Film Indonesia" dan memantapkan pada festival film yang berorientasi anak-anak muda kreatif yang tetap cipta Indonesia, khususnya film Indonesia.
 
Dia mengatakan seperti kata pepatah "Lain Lubuk Lain Ikannya, lain Padang Lain Ilalang". Setiap daerah dimanapun memiliki adat dan tradisi yang berbeda.
 
Hal inilah yang menjadi inspirasinya sebagai penulis sekaligus sutradara film "Salisiah Adaik" yang diproduksinya oleh Brisickzz Production.
 
Film ini, ujar dia, bercerita tentang kisah dua sejoli yang memiliki tata cara pernikahan yang berbeda. Muslim adalah bujang dari Pariaman, sementara Rosa adalah gadis Kabupaten Limapuluh Kota.
 
Pernikahan bagi keluarga Muslim dengan adat Pariaman mengatakan bahwa Muslim harus menerima "uang jemputan" dari calon istri.
 
Sedangkan bagi Rosa adatnya tidak mengenal istilah "uang jemputan". Rosa memakai adat Limapiluh Kota yang menyatakan bahwa Muslim harus melaksanakan adat "sasuduik".
 
"Sasuduik" adalah kewajiban calon pengantin laki-laki dalam melengkapi perlengkapan kamar calon istri. Perlengkapan tersebut mulai dari tempat tidur, lemari, meja rias dan lain sebagainya,  sebut Ferdinand Almi.
 
Dia menjelaskan pemain yang terlibat dalam film ini adalah penduduk asli Pariaman dan Kabupaten Limapuluh Kota untuk memperkuat dialegtika masing-masing daerah.
 
Nagari VII Koto Kecamatan Guguak, Kabupaten Limapuluh Kota pun menjadi pilihan untuk lokasi syuting, karena daerah tersebut memiliki alam yang masih asri, dengan rumah adat Minang yang masih terjaga keutuhannya, begitu pula dengan bangunan-bangunan lain yang mendukung settingan dan konsep keadaan minang tempo dulu.
 
"Dengan jumlah kru yang tidak banyak dan semua adalah mahasiswa ISI Padang Panjang yang mayoritas angkatan 2011 dan 2012, proses pembuatan film 'Salisiah Adaik' tidak memakan waktu yang lama maupun biaya yang besar, dikarenakan film ini awalnya hanya untuk tugas semester PratikaTerpadu Penciptaan," sebutnya.
 
Tidak mau berakhir hanya sebagai tugas, lanjutnya, seluruh kru "SalisiahAdaik" memutuskan untuk mengadakan pemutaran film perdana yang bertempat di gedung utama Taman Budaya Sumbar pada 19 Februari 2014 dan mengirimkan film tersebut untuk Piala Maya 2014.
 
"Malam penghargaan Piala Maya ini akan diselenggarakan pada tanggal 20 Desember mendatang di Museum Gajah Jakarta. Kami juga memohon doa dan dukungannya dari civitas ISI Padang Panjang dan masyarakat Sumbar, agar film kami ini juga bisa menjadi peraih penghargaan tersebut," katanya. (AY)
.

Categories:Film,
Tags:film,