BioNTech Produksi 2 Miliar Dosis Vaksin Covid-19 pada 2021

BioNTech Produksi 2 Miliar Dosis Vaksin Covid-19 pada 2021

BioNTech Siap Produksi 2 Miliar Dosis Vaksin Covid-19 pada 2021. (foto - AFP)

Marburg  -  Pembuat  vaksin  Corona  Jerman   BioNTech  serta  raksasa  farmasi  AS  Pfizer  menyatakan,  pihaknya  siap meningkatkan produksi vaksin Covid-19 hingga 2 miliar dosis tahun 2021. Demikian pernyataan yang dirilis belum lama ini di Jerman dan Amerika Serikat.

Sebelumnya, BioNtech dan mitranya Pfizer menargetkan produksi sebanyak 1,3 miliar dosis untuk tahun 2021. Namun, karena permintaan terhadap vaksin dengan tingkat efikasi di atas 95 persen itu terus meningkat.

BioNTech menyatakan, peningkatan produksi akan dicapai melalui perbaikan proses produksi, sekaligus peningkatan kapasitas pada pemasok dan mitra produksi. Dokumen rencana peningkatan produksi telah diserahkan kepada Komisi Sekuritas dan Bursa AS, SEC.

Dilansir Reuters, keberadaan pabrik barunya di Kota Marburg Jerman akan mulai berproduksi pada bulan Februari, dengan kapasitas produksi tahunan hingga 750 juta dosis vaksin.

Sejauh ini, sudah 50 juta dosis vaksin diproduksi dan sekitar 33 juta dosis vaksin yang telah didistribusikan. Untuk tahun 2021 direncanakan total produksi mencapai 2 miliar dosis, cukup untuk memvaksinasi sebanyak 1 miliar orang, karena satu orang perlu dua dosis vaksin.

Salah seorang juru bicara BioNTech mengatakan, sisanya yang belum didistribusikan masih menunggu diambil pemesannya, karena harus mempersiapkan kapasitas penyimpanan lebih dulu. Vaksin BioNtech/Pfizer harus disimpan pada suhu minus 70 derajat Celcius.

Saat ini, vaksin BioNTech/Pfizer diproduksi di kantor pusat BioNTech di Kota Mainz Jerman, di pabrik di Belgia dan di beberapa pabrik di AS. Vaksin BioNTech/Pfizer yang pertama yang mendapat izin penggunaan dari otoritas kesehatan Uni Eropa. Vaksin itu juga sudah disetujui untuk digunakan di AS, Inggris, Arab Saudi serta setidaknya 19 negara lainnya.

Vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh BioNTech juga dapat melindungi dari virus Corona, yang mengalami mutasi dan muncul di Inggris serta Afrika Selatan, demikian menurut studi awal laboratorium terbaru yang dilakukan para peneliti di Pfizer dan University of Texas AS.

Ada 20 partisipan yang divaksinasi, antibodi yang dihasilkan berhasil melawan virus yang bermutasi. Meski tes itu hanya dilakukan dalam kondisi laboratorium dan kelompok uji yang terbatas, para peneliti mengatakan data-datanya cukup meyakinkan.

Varian virus Corona baru ditemukan di Inggris dan Afrika Selatan terbukti bisa menular jauh lebih cepat, meski tidak mengakibatkan gejala penyakit yang lebih berbahaya. Namun karena penularannya cepat, situasi ini bisa membuat rumah sakit dan fasilitas kesehatan kewalahan, yang bisa membahayakan keselamatan pasien. (Jr.)**

.

Categories:Internasional,
Tags:,