Mengapresiasi Kiprah Girl Band "KM"

Mengapresiasi Kiprah Girl Band

Kunjungan Girl Band KM di Eduplex Cafe, (Foto: Cikalnews/Dadan)

ADA secercah harapan di balik meredupnya eksistensi dan kevakuman grup-grup, yang mengatasnamakan girl band di Tanah Air belakangan ini. Ya, Bandung kembali menelorkan bibit-bibit unggul dalam kancah permusikan, khususnya yang menyandang predikat sebagai girl band.
 
 
Di Indonesia, orang mengenal girl band yang tetap bertahan hingga kini tampaknya masih bisa dihitung dengan sebelah tangan. Sebut saja Cherybelle ataupun JKT 48. Selebihnya tiarap. Mungkin karena belum ada lagi aktivitas baik untuk tampil di televisi maupun dapur rekaman. Boleh jadi kalaupun ada tawaran, itupun hanya sebatas off air yang luput dari publikasi dan perhatian publik.
 
Di tengah kevakuman girl band, tiba-tiba muncul harapan baru yang perlu diapreasiasi yang datang dari Bandung. Kota yang kerap banyak melahirkan artis besar sejak dulu hingga hari ini. Kehadiran perempuan-perempuan muda, cantik dan enerjik memperkenalkan diri sebagai girl band asal Bandung patut kita apresiasi.
 
 
"KM"  (Korea Music) kedengarannya memang simple, yakni sebuah nama girl band yang diperkuat Sessi, Wulan, Icha, Reika, dan Bila ini. Namun, kalau kita simak tidak begitu sederhana dengan kemampuannya. Ketika berkunjung ke Redaksi CikalNews.com di ujung sore dan mampir di acara Ngopi Sore, banyak asa dan keunikan dari girl band "KM".
 
 
 
Untuk mengetahui lebih jauh apa dan siapa serta bagaimana kisah lahirnya "KM", bersama Cepi Juniar dan Wa Ode coba menelusuri jejak aktivitasnya hingga terbentuknya girl band, yang belakangan dikontrak perusahaan besar Korea Music Entertainment di Korea Selatan ini. Berikut kisahnya.
 
 
CikalNews.com (CN): Halo apa kabarnya nih "KM", bisa dikisahkan apa dan siapa sich sebenarnya KM ini?
 
Sessy, Wulan, Icha, Reika, dan Bila (KM): Baik, kami memang pendatang baru di dunia musik Indonesia. Memang belum ada jejaknya, namun baru akan membuat jejak yang mudah-mudahan jejak ini mampu memberi spirit positif buat "KM" dan buat Kota Bandung.
 
CN: Bagaimana awalnya dan mengapa bisa membentuk "KM" bisa dikisahkan?
 
KM: Awalnya kami ini bukan siapa-siapa, hanya karena satu minat, satu kegemaran, dan satu tekad. Kami menyukai apapun yang berbau Korea Selatan. Termasuk lagu-lagunya, grup bandnya, tariannya, dan bahasanya serta negaranya. Namun tentu kesukaan ini tidak berarti melunturkan nasionalisme kami sendiri ha.. ha.. ha.. ha.
 
Kami lalu bergabung di Hansamo, yang meretas hampir semua aktivitas budaya Korea di Bandung. Melalui Hansamo itulah girl band ini berawal.
 
CN: Jadi, Hansamo yang membentuk kalian menjadi "KM"?
 
KM: Tidak, suatu saat, dengan kehadiran KME (Korea Music Entertainment), Hansamo sedang ingin mencari bibit-bibit potensial di dunia musik. Singkat cerita, KME ingin mengorbitkan bibit dari Korea  ke mancanegara. Dan pilihan itu jatuh ke Kota Bandung. Audisi untuk membentuk grup pun akhirnya dilakukan. Cukup banyak pesertanya, hampir semua anak-anak Hansamo ikut, termasuk dari daerah lain, kira-kira 200 peserta. Akhirnya kami berlima inilah yang lolos audisi.
 
 
CN: Wow hebat! Kalian memang sudah jadi penyanyi sebelum bergabung?
 
KM: Tidak, tetapi kami secara personal menyukai musik, kami juga menyukai tarian. Setelah kami bergabung dalam "KM" inilah, hal itu mulai dibiasakan. Ya, harus bisa nyanyi dan menari. Untuk itu, enggak ada masalah karena kami pada dasarnya udah suka.  Kami lalu diboyong ke Korea Selatan selama enam (6) bulam untuk digodok. Tiada hari tanpa latihan, nyanyi, nari dan koreografi. Busana juga dikonsep ala Korea dari para pelatih profesional di sana.
 
CN: Lalu bagaimana proses riilnya hingga sekarang memperkenalkan minialbum dengan lagu  “Heundeul-Heundeul” berisikan lima lagu.
 
KM: Para produser musik di Korea mengatakan bahwa kami memiliki bakat dan kemampuan yang sangat tinggi. Hingga produser Korea tersebut menyiapkan beberapa lagu untuk project mini album "KM" dengan mengusung genre musik K-Pop.
 
Dalam album ini kami menawarkan konsep baru dalam tiga lirik bahasa yang dikemas satu lagu, ada bahasa Indonesia, Korea, dan Inggris. Ini maksudnya agar bisa diedarkan juga di Korea Selatan, Jepang dan Indonesia.
 
CN: Sekarang sudah terealisasi mimpi kalian. Apa yang bisa dipetik dari pengalaman selama berada di Korea?
 
KM: Banyak banget, disiplin dan profesionalisme kerja yang dijunjung tinggi, bisa membuat kami sadar. Satu tekad untuk melangkah kompak, belajar profesional. Kami juga tetap membawa nama Indonesia khususnya Bandung, jadi ini bisa dikatakan semacam pertukaran budaya. Karena kami selalu bicara dan membawa nama Bandung.
 
CN : Sepertinya tidak ada kesulitan ya, atau memang ada bisa dijelaskan?
 
KM: Proses adaptasi selalu mengalami fuktuatif, terkadang kami sulit untuk menyesuaikan diri terutama dari segi bahasa. Soal makanan sehari-hari juga awal-awalnya tidak cocok tapi lama-lama terbiasa juga dan suka. Kalau bahasa, kita pakai bahasa gesture aja. Tetapi karena kami mau belajar, akhirnya bisa juga. Hebatnya manajer kami Mbak Dewi kan sangat fasih berbahasa Korea, jadi kami dibimbing. Ha ha ha.
 
CN: Apa rencana jangka pendek ini ke depan? Selamat ya.
 
KM: Kami masih akan disibukkan dengan promo album, lebih banyak tampil di Indonesia. Nanti juga ke Korea karena karena lagu kami yang mengusung tiga bahasa (Indonesia, Korea, Inggris). Album kami juga diedarkan dan di proin di Jepang, Korean dan Indonesia.
 
 
Terima kasih yang support CikalNews.com, semoga kita bisa saling membesarkan.(Ode/Jr.)**
.

Categories:KopiSore,

terkait

    Tidak ada artikel terkait