Gubernur Koster Sempat Promosi Miras tradisional Arak Bali

Gubernur Koster Sempat Promosi Miras tradisional Arak Bali

Arak Bali, miras tradisional produksi warga lokal. (foto - ist)

Denpasar  -  Peraturan  Presiden  (Perpres)  Nomor  10  Tahun  2021  tentang  Bidang  Usaha  Penanaman  Modal  menuai kritik tajam hingga penolakan dari berbagai lapisan masyarakat. Namun, Perpres itu justru disambut baik oleh Gubernur Bali Wayan Koster.

Seperti diketahui, dalam Perpres ada pasal yang mengizinkan investasi untuk miras di empat provinsi yaitu Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Utara (Sulut) dan Papua. Penanaman modal baru untuk industri miras di empat provinsi itu diizinkan dengan memperhatikan budaya dan kearifan setempat.

Namun demikian, terbaru presiden Jokowi resmi mencabut perpres investasi miras itu, Selasa 2 Maret 2021. "Bersama ini saya sampaikan, saya putuskan lampiran perpres terkait pembukaan investasi baru dalam industri miras yang mengandung alkohol saya nyatakan dicabut," katanya.

Sebelumnya, Koster telah menyambut baik terbitnya Perpres no 10 tahun 2021 tersebut. Menurutnya, hal itu menjadi kabar gembira bagi perajin minuman fermentasi atau destilasi khas Bali, berupa Arak Bali, Tuak Bali dan Brem Bali.

"Dengan adanya Perpres nomor 10 tahun 2021, menjadikan minuman Arak Bali, Brem Bali dan Tuak Bali sebagai usaha yang sah untuk diproduksi dan dikembangkan," kata Koster di Denpasar beberapa waktu lalu.

Koster menyatakan, keberadaan Perpres Nomor 10 Tahun 2021 memperkuat keberadaan Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 1 Tahun 2020, tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan/atau Destilasi Khas Bali. Sehingga ia pun menyampaikan apresiasi dan terima kasih sebesar-besarnya kepada Jokowi yang telah menerbitkan Perpres.

"Dengan perpres maka izin usaha industri beserta perluasan usaha minuman fermentasi atau destilasi khas Bali yakni Tuak Bali, Brem Bali dan Arak Bali, produk artisanal dan arak/brem untuk upacara keagamaan, sangat terbuka untuk dikembangkan oleh Krama Bali," tegasnya.

Ia pun telah berencana untuk segera mengambil kebijakan dalam pengembangan usaha industri beserta perluasan usaha minuman fermentasi dan/atau destilasi khas Bali. Langkah itu akan dilakukan Koster mulai dari sejumlah Industri Kecil dan Menengah (IKM) berbasis kerakyatan di sentra perajin arak.

Ia menambahkan, strategi dan kebijakan itu bertujuan untuk meningkatkan nilai perekonomian rakyat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat. Hal itu merupakan wujud nyata keberpihakan Pemprov Bali pada ekonomi rakyat berbasis tradisi.

Lebih jauh mengenai arak Bali itu sendiri memang tergolong miras tradisional. Minuman itu terkenal di kalangan wisatawan lokal maupun asing. Arak Bali memiliki kandungan alkohol bervariasi. Ada yang 15 persen hingga 40 persen.

Arak Bali terbuat dari fermentasi nira dari pohon kelapa atau lontar dan beras merah. Jenis miras itu masih banyak dibuat dengan teknik tradisional oleh para penduduk lokal Bali. bahkan, di Bali ada beberapa wilayah yang terkenal sebagai produsen arak.

Mereka membuat arak Bali dengan proses penyulingan tradisional. Untuk mereknya, arak Bali yang terkenal adalah buatan Dewi Sri. Produk itu konon sudah ada sejak tahun 1968. Arak Bali Dewi Sri juga kerap dijadikan bahan campuran minuman menyegarkan. (Jr.)**

.

Categories:Nasional,
Tags:,