237 Kapal Antre di Terusan Suez, Suatu Kerugian Luar Biasa

237 Kapal Antre di Terusan Suez, Suatu Kerugian Luar Biasa

Kapal pengangkut kontainer Ever Given tersangkut di Terusan Suaez. (foto - EPA)

Suez  -  Terusan  Suez  yang  merupakan  salah  satu  jalur perdagangan  vital  di dunia  terganggu  setelah adanya  kapal pengangkut kontainer Ever Given tersangkut hingga menimbulkan kemacetan yang luar biasa.

Dilansir CNN Business, Sabtu (27/3/2021) sedikitnya lebih dari 200 kapal menunggu antrean agar bisa melewati jalur tersebut. Terjadinya insiden tersebut membuat rantai pasok global berpotensi menjadi lebih sulit dan lebih mahal.

Penutupan rute utama Barat dan Timur disebut bisa memperburuk keadaan. Apalagi dengan adanya pengalihan rute juga disebut bisa mengacaukan sistem bisnis. Mulai dari masalah peti kemas, kemacetan hingga kapasitas.

Dengan kondisi kapal Ever Given itu sendiri berpotensi mengganggu pasokan barang, khususnya dari Asia ke kawasan Eropa dan Amerika Utara. Selain itu produk pertanian juga akan terganggu dengan adanya masalah itu.

Hingga Jumat 26 Maret 2021, ada 237 kapal termasuk kapal tanker minyak yang masih menunggu untuk transit di kanal Terusan Suez. CEO CH Robinson Bob Biesterfeld menyatakan, ini merupakan masalah besar yang belum pernah ia alami sebelumnya. "Ini benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya," katanya.

Sebelum terjadinya masalah itu, biaya pengiriman menggunakan peti kemas 40 kaki tercatat naik dari 1.040 dolar AS pada Juni menjadi 4.750 dolar AS. Pada Februari untuk impor barang AS melalui laut tercatat 5,2 miliar dolar AS, padahal sebelumnya hanya 2 miliar dolar AS pada 2020.

Menurut Analis S&P Global Panjiva Chris Rogers, kenaikan harga itu membuat perusahaan tertekan. "Saya kira itu adalah hal yang tak bisa dihindari dan cepat atau lambat akan berpengaruh ke harga untuk konsumen," katanya.

Ia menyatakan, virus Corona memang menjadi malapetaka untuk rantai pasok global sejak tahun lalu. Dengan penerapan lockdown di berbagai wilayah, sangat mengganggu siklus perdagangan dan produksi.

Kegiatan ekonomi melambat secara signifikan saat awal pandemi. Kemudian permintaan barang manufaktur seperti televisi, furnitur dan sepeda tak diimbangi dengan produksi. Banyak pabrik berhenti produksi karena kekurangan chip komputer, terkait tingginya permintaan untuk smartphone, game hingga gadget lainnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif di Port of Los Angeles Gene Seroka menyatakan, satu tahun lalu perdagangan global melambat saat pandemi melanda. Namun saat ini terjadi lonjakan impor yang ditopang oleh permintaan konsumen AS.

S&P Global Panjiva menyebutkan, impor barang melalui laut AS tercatat 30 persen lebih tinggi pada Februari, jika dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun lalu sebesar 20 persen pada Februari 2019.

Lonjakan impor di AS tersebut menyebabkan banyak negara mengalami kekurangan peti kemas. Pasalnya, permintaan ke AS meningkat mulai dari mobil, mesin, pakaian jadi hingga kebutuhan pokok. (Jr.)**

.

Categories:Ekonomi,
Tags:,

terkait

    Tidak ada artikel terkait