PN Cibadak Sukabumi Vonis Mati 13 Orang Terkait Narkoba

PN Cibadak Sukabumi Vonis Mati 13 Orang Terkait Narkoba

Sidang di PN kelas IB Cibadak Kabupaten Sukabumi lewat zoom. (fto - ist)

Sukabumi - Pengadilan Negeri Kelas IB Cibadak Kabupaten Sukabumi mencetak rekor, Selasa 6 April 2021. Majelis hakim di PN Kelas IB Cibadak menjatuhkan vonis hukuman mati terhadap 13 terdakwa yang terjerat kasus narkotika dalam satu rangkaian.

Jaringan peredaran narkotika tersebut merupakan jaringan internasional, dengan barang buktinya lebih dari 400 kilogram sabu. Hukuman mati diungkap Ketua majelis dalam sidang putusan tersebut Aslan Aini, dengan anggota M Zulqarnain, Rays Hidayat, Agustinus dan Lisa Fatmasari.

Berdasarkan keterangan Humas Pengadilan Negeri (PN) Cibadak Muhammad Zulqarnain, ada 14 terdakwa dalam kasus sabu seberat 402 kilogram tersebut, sedangkan yang divonis mati sebanyak 13 orang.

"Persidangan untuk perkara narkotika sabu sebanyak 402 kg telah dilaksanakan dan sudah dibacakan putusan. Jadi ke-14 terdakwa yang diajukan di pengadilan, 13 di antaranya diputus dengan hukuman mati, lalu untuk satu orang terdakwa karena melanggar tindak pidana pencucian uang divonis 5 tahun," katanya.

Menurutnya, dari 13 terdakwa yang dihukum mati terdapat sembilan orang warga negara Indonesia (WNI) dan empat orang warga negara asing (WNA). "Dari 13 terdakwa yang dihukum mati terdiri atas 4 orang WNA dan yang 9 orang WNI," tegasnya.

Zulqarnain menyatakan, dua terdakwa WNA bernama Hossein dan Samiullah berperan sebagai perantara jual beli. Sedangkan dua WNA atas nama Mahmoud dan Atefeh selain terlibat kasus narkotika, juga terlibat kasus pencucian uang.

Keempat WNA tersebut terbukti bersalah melanggar Pasal 114 ayat 2 tentang narkotika dan pasal 3 Jo 10 UU tindak pidana pencucian uang, dengan ancaman hukuman mati.

Dari putusan yang telah dibacakan oleh majelis, untuk 2 orang WNA atas nama Husen dan Samiullah terbukti melanggar Pasal 114 ayat 2. Yakni pemufakatan jahat jadi perantara jual beli narkotika golongan sabu 5 gram sebagaimana dakwaan primer.

Kemudian untuk terdakwa atas nama Mahmoud dan Atefeh terbukti melakukan tindak pidana melanggar Pasal 114 ayat 2 undang-undang narkotika dan pasal 3 Jo 10 undang-undang, tentang tindak pidana pencucian uang.

Sedangkan untuk sembilan orang WNI berperan sebagai kurir dan koordinator. Namun demikian, mereka juga dikenakan pasal yang sama dengan empat WNA.

"Untuk 9 terdakwa WNI terbukti melanggar Pasal 114 ayat 2 undang-undang tentang narkotika. Jadi pertimbangan putusan majelis hakim ke-9 terdakwa WNI itu perannya lebih kepada kurir. Namun ada juga yang menjadi koordinator kecil dari pelaksanaan pengambilan sabu untuk dibawa ke daratan," katanya.

Sementara itu, untuk terdakwa atas nama Risma Ismayanti yang divonis 5 tahun penjara, hanya dituntut undang-undang pencucian uang.

"Dari dakwaan yang diajukan penuntut umum, Risma melanggar Pasal 4 Jo 10 undang-undang tindak pidana pencucian uang. Jadi hanya murni tentang tindak pidana pencucian uang yang ancaman maksimalnya 5 tahun, sehingga dari tuntutan penuntut umum 5 tahun diputus oleh majelis hakim juga 5 tahun," tambahnya.

Selama tujuh hari ke depan lanjut Zulqarnain, pihaknya menunggu kemungkinan banding dari para terdakwa, terkait putusan atau vonis yang telah dijatuhkan PN Cibadak. (Jr.)**

.

Tags:,