Beban Guru Terbungkus Dalam Kurikulum 2013

Beban Guru Terbungkus Dalam Kurikulum 2013

ilustrasi. (Net)

Di Provinsi Sulawesi Tenggara, setelah Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  mengungkap kebijakan menyangkut penghentian penerapan K-13 kepada publik,  sejumlah guru, siswa, dan orang tua murid mengungkapkan betapa berat beban yang dipikul dari penerapan kurikulum tersebut.

"Setiap hari, kami harus menanggung beban biaya dari penggandaan lembar penilaian yang dibagikan kepada para wiswa. Oleh siswa kemudian mengisi nilai di lembaran penilaian tersebut berdasarkan penilaian diri sendiri dan menilai teman-teman satu kelasnya," Salah seorang guru SMA Negeri 3 Baubau, Nursia Hamid melalui telepon dari Baubau, Sabtu (13/12/2014).

Bayangkan ujarnya, guru setiap hari harus menggandakan lembaran penilaian sebanyak 27 lembar (sesuai jumlah siswa dalam satu kelasnya), dengan harga foto kopi Rp250/lembar, maka guru harus mengeluarkan uang Rp6.750/ kelas. 

Nah, kalau guru yang mengajar minimal enam kelas dalam sehari katanya, maka guru bersangkutan harus menanggung biaya foto kopi lembar penilaian dari enam kelas tersebut sebanyak Rp40.500.

Beban lain yang juga dirasakan berat oleh guru adalah tugas mengamati dan menilai gerak gerik siswa dari berbagai aspek penilaian seperti kejujuran, spritual, dan kekompokan siswa saat proses belajar mengajar di dalam kelas sedang berlangsung.

Menentukan nilai dari berbagai hal tersebut, bagi guru bukanlah hal muda karena tolok ukurnya tidak jelas sehingga penilaian bisa subyektif dan lebih dipengaruhi oleh emosional guru.

"Sangat mungkin seorang guru salah dalam menentukan nilai kejujuran dan spritual dari murid-muridnya. Dan kesalahan itu, bisa berdampak pada masa depan siswa," katanya.

Keterangan serupa juga disampaikan Abdul Hamid, guru SMA Negeri 3 Baubau. 

Menurut dia, penerapan kurikulum 2013, hanya menjadi beban bagi guru, siswa dan orangtua murid.

"Setiap hari siswa harus membuat laporan dalam bentuk paper dan memfoto kopi materi pelajaran. Biaya foto kopi dan pembuatan paper tersebut, tentu sangat membebani orang tua," kata Hamid.

Makanya ujar Hamid, guru-guru, siswa dan orangtua, sangat mendukung kebijakan Menteri Pendidikan yang mau menghentikan penerapan kurikulum 2013 itu. 

Kebijakan itu, akan melepaskan guru, siswa dan orangtua dari berbagai beban yang teramat berat.

Kebijakan tepat
Sementara itu, Satna Nafarudin, guru SMP Negeri 8 Lowu-lowu, Kota Baubau menilai kebijakan Mendikbud menghentikan penerapan kurikulum 2013 tersebut merupakan kebijakan yang sangat tepat. 

"Sebagai guru sekaligus orangtua siswa, saya sangat setuju dengan penghentian kurikulum 2013 itu, sebab dengan sistem pembelajaran yang dikehendaki kurikulum itu, kita guru-guru hanya capek berdiri di depan kelas menunggu respon siswa setelah membaca materi ajar yang dibagikan," katanya.(Ode)**

.

Categories:Pendidikan,