AS Dikepung Demo Puluhan Ribu Orang

AS Dikepung Demo Puluhan Ribu Orang

Demo rasisme warga kulit hitam Amerika yang berhadapan dengan aparan kepolisian New York. Foto: Joshua Lott/Reuters

New York  - Puluhan ribu orang berkumpul di New York dan Washington,  meningkatkan aksi unjuk rasa di seantero Amerika Serikat, untuk menuntut keadilan bagi warga kulit hitam yang tewas di tangan para polisi kulit putih. 

Demonstrasi yang berlangsung di Washington DC, New York, Boston serta sejumlah kota di negara bagian California, adalah salah satu gerakan terbesar gelombang unjuk rasa yang dipicu oleh pembunuhan terhadap seorang remaja kulit hitam tak bersenjata, Michael Brown, di Ferguson, Missouri pada 9 Agustus.

Keputusan dewan juri untuk tidak mengadili para petugas kepolisian berkulit putih yang bertanggung jawab atas tewasnya pemuda berusia 18 tahun itu, serta cekikan fatal yang dialami seorang ayah berputera enam di New York, Eric Garner, pada Juli lalu. Ini semua telah memicu berlangsungnya unjuk rasa selama berminggu-minggu. 

AFP melaporkan, lautan pengunjuk rasa menutup bagian-bagian wilayah di Manhattan, New York, dan Pennsylvania Avenue di Washington menuju Gedung Parlemen AS dengan meneriakkan kalimat-kalimat "Tidak ada keadilan, tidak ada perdamaian!", "Keadilan Sekarang Juga!" dan "Seluruh sistem terkutuk itu sangat bersalah!". 

Kendati polisi di Washington tidak memberikan gambaran tentang besarnya kerumunan, jumlah warga yang berunjuk rasa mencapai lebih dari 5.000 orang, melebihi jumlah yang awalnya diperkirakan oleh para penyelenggara demonstrasi. 

Di New York, polisi menyebut sekitar 25.000 orang yang turun ke jalan. Adapun para penyelenggara yang berkicau di Twitter menyebutkan, angka itu mencapai 50.000 orang. Halaman Facebook mereka menunjukkan,  ada sekitar 48.000 orang yang mengatakan akan ikut ambil bagian dalam demonstrasi. 

Kerumuman pengunjuk rasa berkulit hitam dan putih mengerahkan tidak hanya banyak anak muda tetapi juga keluarga, anak-anak, orang tua dan orang-orang lanjut usia. 

Mereka mengusung spanduk berbunyi "Stop polisi rasis" dan "Saya tidak bisa bernafas" --yaitu kata-kata terakhir yang diucapkan berkali-kali oleh Garner ketika polisi melumpuhkannya ke lantai, atas dugaan menjual rokok tanpa pajak di Staten Island di kota New York. 

Serangkaian kematian di tangan para petugas kepolisian, termasuk tewasnya pemuda kulit hitam berusia 28 tahun, Akai Gurley, di Brooklyn, telah mengobarkan kebencian terhadap cara-cara polisi di Amerika Serikat, dan menanamkan keraguan di hati banyak warga kulit hitam terhadap penegakan hukum. 

Keluarga Garner dan Brown di Washington bergabung bersama para kerabat bocah kulit hitam berusia 12 tahun, Tamir Rice, yang ditembak mati bulan lalu oleh polisi Cleveland, serta Trayvon Martin, yang tewas di Florida oleh seorang petugas keamanan kompleks perumahan pada 2012. 

Di New York, para pengunjuk rasa memenuhi dan menutup rute sepanjang enam kilometer, dari Washington Square menuju Fifth dan Sixth Avenue serta Broadway untuk berkumpul di luar markas kepolisian sambil meneriakkan kata-kata "Keadilan sekarang juga!".(Jr.)**

.

Categories:Internasional,
Tags:kerusuhan,