Target 10 JutaTon Beras Sulit Dicapai

Target 10 JutaTon Beras Sulit Dicapai

Ilustrasi Foto.(Net)

Jakarta - Target pencapaian surplus produksi beras nasional pada 2014 sebesar 10 juta ton dinilai akan sulit dicapai karena produkvitas sektor pertanian nasional masih menghadapi sejumlah kendala yang belum teratasi sampai saat ini, mulai penyusutan lahan, produksi padi menurun hingga minimnya sarana irigasi.
 
"Benar, kalau target surlus 10 juta ton tahun ini, tidak akan dicapai. Angkanya jauh di bawah itu," kata Sekretaris Dewan Sumber Daya Air Nasional, Mudjiadi yang juga Dirjen Sumber Daya Air, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat di sela jumpa pers Dewan Sumber Daya Air Nasional, di Jakarta, Selasa (16/12/2014).
 
Mudjiadi menegaskan, bahwa target tersebut adalah target pemerintahan sebelumnya, sedangkan target pemerintahan saat ini adalah swasembada beras sebagai bagian dari program ketahanan pangan.
 
"Kalau swasembada patokannya adalah kemampuan memproduksi lebih dari kapasitas yang ada saat ini, sehingga misalnya produktivitas nasional 70 juta ton beras, maka bertambah menjadi lima ton, sudah bisa dikatakan swasembada," katanya.
 
Menurut dia, target itu sangat dimungkinkan dicapai karena akan dibarengi dengan program perbaikan dan pembangunan irigasi secara nasional. "Perbaikan saluran irigasi 3,3 juta ha dan irigasi baru 1,1 juta ha, itu sudah cukup memadai dalam tiga tahun ke depan," katanya.
 
Untuk perbaikan saluran irigasi tersebut, tambahnya, sekitar 2 juta ha menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi dan satu juta ha pemerintah pusat, kemudian untuk 1,1 juta ha irigasi baru, terbanyak berada di luar Jawa seperti Sulawesi dan Sumatera.
 
Anggota Dewan Sumber Daya Air dari unsur non pemerintah, Kuswanto Sumo Atmojo juga membenarkan bahwa target surplus itu berat jika targetnya 10 juta ton. "Surplus itu adalah produksi dikurangi konsumsi," katanya.
 
Kuswanto memperkirakan realisasinya pada tahun ini, surplus beras nasional hanya sekitar 5 juta ton.
 
Mudjiadi saat menjelaskan program dan kinerja Dewan Sumber Daya Air Nasional mengakui bahwa pencapaian target surplus beras 10 juta ton itu pada 2014 juga salah satu dari delapan rekomendasi pada 2012 kepada presiden saat itu.
 
"Rekomendasi lainnya antara lain pencapaian target rehabilitasi hutan dan lahan kritis 2,5 juta ha, peningkatan pengelolaan Sumber Daya Air di wilayah perbatasan dan lainnya," katanya.
 
Ketahanan Air Anggota Dewan Sumber Daya Air Nasional lainnya, S. Indro Tjahyono menegaskan, pihaknya menyayangkan jika target ketahanan pangan dalam pemerintahan Jokowi ternyata menafikan ketahanan air. "Percuma bangun waduk, jika airnya tidak ada," katanya.
 
Oleh karena itu, lanjutnya, akan melakukan advokasi agar Ketahanan Air juga dapat dijadikan salah satu program prioritas pembangunan,selain ketahanan pangan, energi dan maritim.
 
"Apalagi, kami juga sudah sepakat bahwa mewujudkan ketahanan air adalah salah satu dari rekomendasi kami pada 2013 dan sangat layak disampaikan pada tahun ini karena saat ini adalah tahun peralihan pemerintahan baru," katanya.
 
Dewan Sumber Daya Air Nasional dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 12/2008 dengan tugas pokok adalah membantu presiden dalam penyusunan dan perumusah kebijakan nasional di bidang sumber daya air.
 
Dewan ini berangotakan 44 orang terdiri dari 22 orang unsur pemerintah dan 22 orang non pemerintah dan bersifat nonstruktural dan berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada presiden.
 
Unsur pemerintah itu antara lain 16 menteri dan enam orang gubernur di Indonesia, sedangkan non pemerintah seperti kalangan lembaga swadaya masyarakat, perguruan tinggi dan pemangku kepentingan lainnya. (AY)
.

Categories:Nasional,