OPEC Tak Intervensi Pasar Minyak

OPEC Tak Intervensi Pasar Minyak

ilustrasi

Kuwait City - OPEC tidak memiliki rencana melakukan intervensi di pasar minyak untuk menopang penurunan harga minyak mentah, menteri perminyakan Kuwait mengatakan Rabu (17/12/2014) WIB, setelah minyak mentah Brent menembus batas 60 dolar AS.
 
"Dalam pertemuan OPEC pada November, kami mengambil dua keputusan," kata Ali al-Omair dalam sebuah ceramah di Kuwait City.
 
"Yang pertama adalah mempertahankan pagu produksi tidak berubah dan kedua mengadakan pertemuan berikutnya pada Juni. Sejauh ini, tidak ada yang berubah dan tidak ada desakan untuk mengadakan pertemuan darurat," kata Omair.
 
Dia menolak menjawab pertanyaan tentang berapa harga yang akan memaksa Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) melangkah untuk meningkatkan pasar.
 
"Sampai sekarang, belum ada rencana. Kita akan membicarakan tentang itu ketika itu datang," menteri mengatakan dalam menanggapi pertanyaan tentang apakah OPEC akan bertemu jika harga turun menjadi 40 dolar AS per barel.
 
Menteri Kuwait itu mengatakan kemerosotan harga minyak telah "melampaui semua perkiraan", yang awalnya diprediksi sedikit penurunan dalam harga minyak mentah.
 
Dia mengatakan pasokan berlebih di pasar global telah meningkat dari 1,2 juta barel per hari ketika OPEC bertemu bulan lalu menjadi 1,8 juta barel per hari sekarang.
 
Harga minyak juga di bawah tekanan karena "banyak pasar dunia yang jenuh" dengan minyak.
 
Pada Selasa pagi, Omair mengatakan OPEC harus tetap dengan keputusannya untuk mempertahankan tingkat produksi meskipun harga merosot.
 
"Tidak ada kebutuhan bagi OPEC untuk mengubah keputusannya yang diambil pada 27 November," menteri mengatakan kepada wartawan di luar parlemen.
 
"Kuwait percaya keputusan itu benar dan kami harus melanjutkan itu," katanya, mengesampingkan desakan untuk OPEC mengambil tindakan.
 
Keputusan itu tidak ditujukan untuk memicu "perang harga", tambah dia.
 
Minyak mentah Brent menukik ke tingkat terendah lima tahun di bawah 60 dolar AS karena pasar diguncang penurunan aktivitas manufaktur Tiongkok dan gejolak ekonomi di Rusia.
 
Kontrak acuan minyak mentah Brent North Sea, London, untuk Januari merosot ke serendah 58,50 dolar AS per barel -- terendah sejak Mei 2009.
 
Brent naik kembali ke 59,83 dolar AS pada akhir perdagangan, masih turun 1,23 dolar AS dari penutupan Senin.
 
Sementara minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk Januari di New York mencapai terendah lima tahun serupa pada 53,60 dolar AS, meskipun harga naik kembali menjadi 55,79 dolar AS pada perdagangan tengah hari.
 
Harga minyak telah anjlok hampir 50 persen sejak Juni, dengan kerugian meningkat setelah keputusan OPEC untuk mempertahankan pagu produksinya di pasar yang sedang kelebihan pasokan.
 
Sentimen juga terpukul pada Selasa oleh langkah mengejutkan bank sentral Rusia menaikkan suku bunga menjadi 17 persen, suatu tindakan yang gagal untuk menahan kemerosotan rubel.
 
Menteri mengisyaratkan bahwa harga minyak bisa meluncur lebih jauh.
 
"Tidak diragukan lagi banyak perusahaan minyak serpih dan minyak pasir memproduksi pada biaya yang lebih tinggi dari harga minyak saat ini," kata Omair.
 
"Itu tergantung pada kemampuan produsen tersebut untuk terus memompa pada harga yang rendah," kata dia.
 
Omair mengatakan OPEC memproduksi sekitar 30 persen dari pasokan global dan "kita tidak bisa mengurangi tingkat ini". (AY)
.

Categories:Ekonomi,
Tags:ekonomi,