Sembilan SMK Kerap Tawuran di Cianjur

Sembilan SMK Kerap Tawuran di Cianjur

ilustrasi

Cianjur - DPRD Cianjur, Jabar, mencatat sembilan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di wilayah tersebut, kerap melakukan tawuran, karena itu harus mendapat perhatian khusus semua pihak selain pihak kepolisian.


"Hal tersebut telah kami sampaikan dalam rapat kerja (raker) bersama OPD, pihak sekolah dan Polres Cianjur. Dimana sempat dibahas tentang maraknya miras dan tawuran yang dilakukan sejumlah siswa SMA/SMK," kata Sapturo Ketua Komisi IV DPRD Cianjur, Minggu (21/12/2014).

Sedangkan instansi yang hadir, ungkap dia, Dinas Pendidikan (Disdik), Satpol PP, Dinas Perhubungan Komunikasi dan nformatika (Dishubkominfo), Kejaksaan Negeri (Kejari), Kesbang dan sejumlah pengurus SMA/SMK di Cianjur.

"Raker ini untuk mengetahui sejauh mana permasalahan mengenai miras dan tawuran pelajar. Sehingga nantinya, keluar solusi untuk mencegah atau mengantisipasi beredarnya miras oplosan maupun mengenai kenakalan remaja," katanya.

Untuk mengantisipasi kenakalan remaja harus ada sistem yang jelas karena aksi tawuran bukan masalah sekolah melainkan mmasalah semua pihak. Sehingga pihaknya mengajak instansi dan pihak penegak hukum untuk mencari solusi.

"Hasil sementara dari raker dapat disimpulkan bahwa terjadinya tawuran dan peredaran miras, belum ada kesinergian dalam pengawasan. Tapi kami belum dapat menyimpulkan solusi apa yang harus ditempuh untuk mengantisipasi persoalan tersebut," katanya Sedangkan sekolah yang kerap dan rawan melakukan tawuran, seperti SMK Ar-Rahmah (Stekmal), SMK/SMA Pasundan, SMK PGRI 3 (Otomotif), SMK PGRI 2, Bina Nusantara (BN),AMS, SMK Progresia dan SMKN 1 Cilaku (Nazi).

"Sanksi yang patut diberikan pada pelaku tawuran harus belajar di rumah. Sedangkan sekolah dapat peringatan tegas dari Disdik," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang SMA/SMK Disdik Cianjur, Akib Ibrahim, mengungkapkan, telah berkali-kali melakukan upaya pencegahan aksi tawuran, namun hingga saat ini belum membuahkan hasil dan siswa masih terlibat tawuran.

"Kami akui dalam sistem pengawasan atau pantauan terhadap siswa sepulang sekolah sangat sulit, mereka kerap beregerombol secara acak, sehingga aksi tawuran masih sulit diredam," katanya. (AY)

.

Categories:Nasional,
Tags:kerusuhan,