Komunitas Radio Jadul Bandung Tetap Eksis

Komunitas Radio Jadul Bandung Tetap Eksis

Radio kuno keluaran tahun 40-an hingga 60-an (Foto: Net)

Bandung - Kendati perkembangan teknologi sudah semakin modern, pecinta barang atau elektronik jaman dulu (jadul) masih tetap banyak penggemarnya. Misalnya,  KRAB (Komunitas Radio Antik Bandung) yang tetap eksis dengan koleksi radio kunonya.

Radio kuno keluaran tahun 40-an hingga 60-an, seperti merek Phillips dari Belanda, Grundig dan Siegfried dari Jerman, dan Ralin asli buatan Indonesia, di tangan komunitas ini semuanya bisa tetap berfungsi (nyala-red). Di sini para kolektor radio kuno bisa saling bertukar ilmu, tentang bagaimana merawat dan menjaga agar radio tetap nyala.

Cerita pecinta radio kuno dari komunitas KRAB, Tonton misalnya menyatakan, radio kuno meski sudah berumur masih tetap digemari masyarakat. Masih banyak orang cari untuk koleksi atau sekadar jadi hiasan atau pajangan di rumah.

“Saking banyaknya orang yang mencari radio kuno, harga saat ini untuk beberapa merk radio kuno asli buatan Eropa bisa mencapai Rp 20 jutaan. Bahkan ada yang sampai Rp 40 juta untuk radio tahun 30-an atau 20-an yang jarang ditemukan di Indonesia," kata Tonton saat ditemui, Minggu (21/09/2014)

Selain unit radionya, onderdil atau komponen radio tersebut terbilang tinggi harganya. Apalagi untuk komponen radio keluaran di bawah tahun 30-an harganya sangat tinggi.

“Kini banyak komponen beredar di luar negeri, jadi mahal pas jatuh ke para kolektor Indonesia. Apalagi merk dan tahun keluaran lama bisa didapat di tempat pembuatnya, di negara Eropa. Harganya bisa mencapai jutaan rupiah kalau memang itu orisinalan," kata Tonton.

Dengan adanya komunitas KRAB, kesulitan para kolektor radio antik atau juga piringan hitam bisa teratasi karena harga bisa sedikit miring bagi komunitas. Apalagi di KRAB sendiri menyediakan tukang service khusus bagi komunitasnya.

"Sebagai anggota KRAB, hadirnya komunitas pecinta radio antik di Kota Bandung membawa warna tersendiri di era serba digital ini" komentar Faisal, salah seorang  kolektor.

“Saat orang asyik dengan gadgetnya, kita malah asyik dengan produk elektronik lama seperti radio, piringan hitam atau televisi antik,"
seru Faisal.

Merawat radio antik tidaklah sulit, para kolektor tinggal rutin membersihkan, mengelap bodinya, dan sesekali waktu membongkar dan membersihkan komponen-komponen dalamnya dari debu.

“Jika debu sudah terlalu banyak menutupi komponen radio di dalamnya, biasanya radio sedikit terganggu fungsinya. Untuk radio tahun 60-an ke atas, mungkin kebanyakan masih menyala. Sementara tahun 60-an ke bawah kebanyakan orang hanya koleksi saja atau untuk pajangan, tetapi ada juga beberapa unit yang masih menyala," tambah Faisal.

Frekuensi pada radio antik memang berbeda dengan radio saat ini, radio antik yang keluar tahun 30-an, 40-an, 50-an masih bergelombang 2 ban, yaitu SW1 dan SW2, sedangkan di atas tahun itu ada yang sampai 4 ban, yaitu SW1,SW2,MW, dan FM.

Komunitas KRAB sendiri sering melakukan sosialisasi atau ajang pameran di berbagai event komunitas atau pemerintahan. Mereka ingin mencari anggota sebanyak mungkin dengan maksud mengumpulkan penggemar dan hobi barang elektronik kuno. Untuk sekadar pajang, gallery koleksinya terkadang KRAB sering ikut di acara kampus. (Jr.)**

.

Categories:Gaya hidup,
Tags:gaya-hidup,