Resensi Film "Night at the Museum 3: Secret of the Tomb"

Resensi Film

Salah satu adegan dalam Film "Night at the Museum 3: Secret of the Tomb".(Foto:Net)

("Tersenyumlah. Matahari telah terbit"). Kutipan yang dapat ditemukan pada bagian akhir film "Night at the Museum 3: Secret of the Tomb" memiliki sentuhan emosional, karena itu adalah adegan terakhir yang diperankan oleh Robin Williams.

Sebagaimana diketahui, film terakhir dari trilogi "Night at the Museum" itu diedarkan setelah peristiwa meninggalnya Robin Williams dengan melakukan bunuh diri di rumahnya di California, 11 Agustus 2014.

Dalam "Night at the Museum 3", sebagaimana dalam film-film sebelumnya, Robin Williams berperan sebagai patung lilin Presiden ke-26 Amerika Serikat, Theodore Roosevelt, yang "hidup" saat malam hari datang.

Tidak hanya patung lilin Theodore Roosevelt, tetapi beragam barang pameran lainnya yang ada di dalam museum, seperti patung Attila the Hun (Patrick Gallagher), Firaun Ahkmenrah (Rami Malek), dan manusia-manusia purbakala juga kembali hidup.

Namun, semua rahasia itu hanya diketahui oleh beberapa orang termasuk Larry Daley (Ben Stiller), seorang satpam di Museum of Natural History di kota New York, AS, di mana di dalamnya semua isi museum akan menjadi bernyawa ketika matahari telah tenggelam.

Awal dari "Night at the Museum 3" itu sendiri dibuka dengan adegan ekspedisi pencarian makam dinasti keluarga Ahkmenrah di Mesir pada tahun 1938.

Saat makam ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang anak, Cecil Fredericks (Percy Hynes-White), seorang warga lokal secara tiba-tiba menyatakan agar isi makam itu jangan diambil karena akan mengakibatkan "akhir akan tiba".

Namun, isi makam itu tetap diambil dan diputuskan bahwa makam Ahkmenrah akan ditempatkan di Museum of Natural History, sedangkan makam kedua orang tuanya ditempatkan di British Museum of Natural History di London.

Pada masa kini, dikisahkan bahwa Museum of Natural History di New York akan mengadakan eksibisi yang akan menampilkan beragam "efek khusus" yang disutradarai secara langsung oleh Larry.

Awalnya, acara eksibisi (yang menampilkan isi dari museum yang seperti biasanya, menjadi hidup pada malam hari), berubah menjadi suasana kacau dan hiruk-pikuk.

Keadaan itu membuat bingung Larry yang telah berteman dengan seluruh karakter dan pajangan dalam museum, karena semua isi museum tidak bertingkah laku seperti biasanya.

Setelah ditelusuri, Larry menemukan bahwa tablet emas yang biasa bersinar di makam Ahkmenrah, mulai menunjukkan perubahan dengan tampaknya karat seperti lumut hijau yang mulai menutupi tablet ajaib tersebut.

Padahal, tablet milik keluarga Ahkmenrah itulah yang menjadi generator atau alat sihir yang mengakibatkan semua isi museum menjadi hidup pada malam hari.

Secara keseluruhan, film "Night at the Museum 3" membawa resep komedi yang serupa dengan film-film pendahulunya, namun pada saat ini terasa lebih "mengglobal" karena settingnya dilakukan di London, Inggris, bukan lagi di Amerika Serikat seperti dua film sebelumnya.

Namun, peran Rebel Wilson sebagai satpam wanita "British Museum of Natural History" patut diacungi jempol karena penampilan komedinya yang menghibur.

Dalam film itu juga muncul cameo dari Hugh Jackman (aktor Australia yang terkenal sebagai perannya sebagai Wolverine dalam trilogi film "X-Men"), yang dalam film itu menjadi dirinya sendiri yang sedang melakukan aksi teatrikal sebagai Raja Arthur di teater London.

Tapi dari berbagai penampilan dalam "Night at the Museum 3", sepertinya banyak penonton yang lebih ingin melihat aksi Robin Williams. Tidak hanya para penonton, Rebel Wilson juga sempat diberitakan situs www.dailymail.co.uk sempat menangis saat menonton adegan terakhir Robin.

Film itu memang membawa rasa haru bagi penggemar Robin Williams, namun secara kualitas relatif tidak terlalu berbeda dengan "Night at the Museum" (2006) dan "Night at the Museum 2: Battle of the Smithsonian" (2009).(Ode)**
.

Categories:Film,
Tags:film,

terkait

    Tidak ada artikel terkait