12 Warga Kalbar Tewas Digigit Anjing

12 Warga Kalbar Tewas Digigit Anjing

Ilustrasi Foto.(Foto:Net)

Pontianak - Komisi Penanggulangan Zoonosis mencatat 12 orang tewas di Provinsi Kalimantan Barat dalam kurun waktu dari September hingga Desember 2014 karena gigitan anjing yang diduga mengidap rabies.

"Sehingga perlu kewaspadaan semua pihak agar penyakit ini tidak terus meluas," kata Wakil Ketua II Komisi Penanggulangan Zoonosis Provinsi Kalbar, Abdul Manaf Mustafa di Pontianak, Selasa (30/12/2014).

Ia melanjutkan, untuk mencegah agar wabah tidak meluas, Gubernur Kalbar Cornelis telah memerintahkan agar kepala daerah menutup wilayah yang tertular dari lalu lintas hewan pembawa rabies.

Menurut Abdul Manaf, daerah yang kini tercatat ada kasus rabies di Kabupaten Melawi dan Ketapang. Kedua kabupaten itu berbatasan dengan Kalteng yang sebelumnya sudah menjadi daerah tertular.

"Akses yang semakin mudah, serta perbatasan yang kini tidak ada batas alam karena pembukaan perkebunan kelapa sawit, membuat anjing dari Kalteng mudah masuk ke Kalbar, dan ini tidak terdeteksi," ujar dia.

Kondisi itu membuat korban tinggal di kecamatan atau desa yang berbatasan dengan Kalteng. Di Kabupaten Ketapang ada Kecamatan Tumbang Titi, Nanga Tayap, Manis Mata dan Jelai Hulu. Di Kabupaten Melawi seperti Kecamatan Sayan, Tanah Pinoh.

Abdul Manaf mewanti-wanti Pemkab Melawi karena kasusnya sudah semakin mendekati wilayah perkotaan. "Kabupaten Sintang juga harus waspada, karena berbatasan dengan Melawi," katanya mengingatkan. Terutama Kecamatan Serawai dan Ambalau di Kabupaten Sintang.

Upaya yang dilakukan diantaranya memberi vaksin rabies, eleminasi anjing liar dan diliarkan, membuat pintu pemeriksaan di jalur resmi perbatasan Kalbar dengan Kalteng.

Sekretaris Daerah Provinsi Kalbar M Zeet Hamdy Assovie meminta kepala daerah yang berbatasan dengan Kalteng untuk sungguh-sungguh melaksanakan instruksi gubernur.

"Tutup wilayah yang tertular," katanya menegaskan. Ia mengingatkan, sebagian korban adalah anak kecil yang seharusnya punya masa depan lebih baik," kata M Zeet.

Abdul Manaf mengakui, kendala dalam penanganan rabies seperti terlambar dilaporkan ke pihak berwenang, jarak antardesa yang sangat jauh sehingga butuh waktu dan biaya besar untuk menjangkau semua daerah.

Selain itu, keterbatasan sumber daya manusia serta dana untuk mengatasi rabies. (AY)

.

Categories:Nasional,
Tags:bencana,