Stop Kekerasan pada Anak-anak

Stop Kekerasan pada Anak-anak

Ilustrasi Foto.(Net)

Bandung-Pada hakikatnya anak-anak adalah titipan Tuhan yang harus kita jaga dan kita sayangi. Berbagai cara orang tua lakukan agar anak-anak mereka mendapatkan yang terbaik, mulai dari bagaimana ia mendidik anaknya, mengurusnya, mengajarinya hingga merencanakan masa depannya.

Namun, masih saja ada orang tua yang kurang benar dalam mendidik anak-anak nya. Kebanyakan dari mereka mendidik anak-anaknya secara berlebihan dengan memberikan semua hal yang diinginkan si anak sehingga menjadikannya pribadi yang manja.

Tak jarang pula kita temukan orang tua yang mendidik anak-anaknya secara keras baik perkataan maupun tindakan, dengan alasan agar si anak menuruti semua perintah orang tuanya.

Anak-anak atau balita pada usia 0 hingga 5 tahun merupakan fase ‘golden age’ dimana fase tersebut adalah fase  yang paling penting bagi pertumbuhan dan perkembangan seorang anak.

Menurut Windy Nurul Wahidah (23) yang merupakan  seorang mahasiswi Psikologi di UIN Sunan Gunung Djati Bandung bahwa pada fase ‘golden age’ kegiatan yang dilakukan seorang anak adalah meniru atau imitasi.

"Imitasi adalah kegiatan meniru sikap, atau perilaku, atau tindakan yang ditunjukan orang tua atau lingkungan  yang ada di sekitarnya. Jika pada fase tersebut anak mendapat kekerasan fisik maupun psikis, bisa jadi dia juga akan melakukan hal yang sama kepada orang lain," Windy menuturkan.

Tak  jarang kita menemukan orang tua yang membentak  atau memarahi anaknya karena si anak sulit diatur atau rewel. Biasanya terjadi pada anak-anak di usia 2 atau 3 tahun karna pada usia tersebut keingintahuan anak sangat besar. Banyak hal yang ingin dia coba dan dia rasakan. 

Windy menambahkan yang paling berbahaya adalah respon yang ditunjukan oleh anak ketika ia menerima kekerasan fisik atau psikis. Jika responnya keluar maka ia akan melakukan kekerasan terhadap orang lain, namun jika responnya ke dalam dia bisa menyakiti diri nya sendiri.

Sepatutnya yang dilakukan orang tua ketika menghadapi anak-anak yang sulit diatur atau rewel adalah tegas. Tegas disini bukan berarti marah atau membentak. Sebagai contoh, ketika si anak masih tetap ingin bermain di wahana permainan padahal sudah waktunya pulang, kebanyakan yang dilakukan si anak adalah menangis.

Cara pertama yang kita lakukan adalah dengan kata-kata membujuk, misalnya “kita pulang sekarang ya nak, nanti mamah bikinin kamu puding, atau mamah tidak akan membuatkanmu sarapan”

Jika si anak masih saja tidak mau diajak pulang, makan cara yang kedua adalah melalui tindakan dengan cara meninggalkannya. Dengan cara demikian si anak lama kelamaan akan balik mengejar. Kebanyakan orang tua malu ketika anaknya menangis di depan umum, padahal tidak seharusnya demikian. 

"Yang sangat dilarang itu justru membentak anak di depan umum, atau memberikannya tindakan yang salah seperti mencubit atau memukul karna akan menghilangkan harga diri anak," ujar Windy kepada CikalNews melalui blackberry messanger, (5/1).(Ode)**

.

Categories:Gaya hidup,
Tags:gaya-hidup,