Pemprov Dokumentasi dan Data Destinasi di Jabar

Pemprov Dokumentasi dan Data Destinasi di Jabar

Ilustrasi Foto.(Foto:Net)

Bandung - Selain sebagai daerah Industri dan lumbung pangan nasional, Jawa Barat memiliki beragam objek wisata budaya yang belum digali secara maksimal. Karenanya Pemerintah Provinsi Jabar akan melakukan pengumpulan dokumentasi dan data destinasi wisata serta even-even di setiap kabupaten dan kota di Jawa Barat, sebagai bahan promosi dan perencanaan ke depannya.
 
Hal ini diungkapkan Wakil Gubenur Jawa Barat, Deddy Mizwar usai memimpin rapat koordinasi program kepariwisataan dan kebudayaan tahun 2015 di ruang rapat Papandayan Gedung Sate, Rabu (14/1/2015). 
 
Menurut Deddy, rakor ini digelar untuk mempertajam tujuan kepariwisataan dan kebudayaan di Jabar, sehingga bisa dilakukan revisi dari program-progam yang telah direncanakan sebelumnya. Karenanya Deddy menilai pengumpulan data destinasi dan even dari setiap kabupaten dan kota sangatlah penting.
 
 “Bagaimana data-data even dan destinasi di kabupaten kota ada enggak, ternyata enggak ada. Kita inisiasi!. Kita akan buat seluruh foto-foto destinasi, provinsi yang akan kasih inisiasi. Foto-foto destinasi seperti apa. Karena kabupaten-kota tidak siap juga.Kita enggak bisa andalkan kabupaten juga kan. Kalau ada foto yang bagus ya silakan. Dan dalam perubahan nanti kita harus bagaimana selain ada lomba fotografi, fotografi nanti kan macam-macam, bertahap. Tapi kita perlu untuk tahun ini data foto-foto destinasi unggulan di Jawa Barat di setiap kabupaten/kota,” ungkap Wagub Jabar.
 
Terkait hal ini Wagub menjelaskan, dirinya akan kembali menggelar even internasional tahunan seperti Gotrasawala di Cirebon, Bandung Internasional Digital Art Festival (Bidaf) di Bandung Raya kemudian di Bogor.
 
”Ada tiga, yang satu Gotrasawala, kemudian Bidaf dan ini kita sedang evaluasi lagi, dan satu lagi kita belum tahu namanya apa di Bogor untuk tahun ini,” bebernya.
 
Selain itu untuk kegiatan Kemilau Nusantara, Deddy mengatakan, akan mengevalusi kembali nomenklatur atau penamaannya, karena semula menjadi agenda pusat yang sekarang dilanjutkan oleh Jawa Barat.
 
”Mungkin yang kita pikirkan tentang kemilau Nusantara. Apa bener nih kemilau Nusantara. Karena enggak mencerminkan Nusantara soalnya. Ini masalah nomenklatur, anggaran sudah ada nomenklatur keliru nih. Karena ini apa maksudnya, dulu kan Kemilau Nusantara punyanya pusat. Sekarang diberhentiin kenapa kita terusin. Hubungannya apa. Mungkin namanya saja yang kita rubah atau evaluasi. Dan kegiatannya bukan hanya di Bandung kan. Dulu kegiatan itu waktu pusat melakukan, Disbudpar lakukan, hanya untuk mengenalkan Gedung Sate kepada masyarakat. Sekarang kan enggak begitu lagi, orientasinya sudah berubah enggak mesti di Bandung semua, bisa di Subang atau di mana saja,” tutupnya. (AY)
.

Categories:Bandung,
Tags:bandung,