Iwan Abdurachman Pencinta Alam Sejati

Iwan Abdurachman Pencinta Alam Sejati

Iwan Abdurahman

Bandung - Menyebut Iwan Abdurachman, kita mungkin teringat pada grup musik asal Bandung, Bimbo. Lagunya "Melati dari Jayagiri" dan "Flamboyan" sempat mengharumkan jagat hiburan Indonesia.

Semalam (26/9/2014) dua  lagu itu sempat dinyanyikannya saat tampil di Padepokan Seni Mayang Sunda Jl Peta Bandung dan ditonton hampir 1000 orang pencintanya. Abah Iwan,  demikian akrab disapa, sosoknya mencuatkan image, kalau pria kelahiran Sumedang, 3 September 1947 ini begitu tinggi akan  komitmennya menyukai alam.

Sejak  muda  dia sudah menyukai pekerjaan yang bersentuhan dengan alam. Suka naik gunung, turun lembah, berkawan dengan pepohonan, bunga,  binatang, dan kadang ke pantai.

Jelajah dan obsesinya untuk menaklukan  gunung tertinggi di dunia sudah tersampaikan berkali-kali. Sebut saja dia ke Nepal untuk menaklukan gunung tertinggi Mont Everest. Di Indonesia, hampir semua gunung di Indonesia sudah disambanginya. Apalagi gunung yang ada di Jawa Barat.  "Tempat-tempat itu memberikan keteduhan, kesunyian, dan inspirasi, sungguh membahagiakan," kata Abah Iwan yang tergabung dalam GPL (Grup Pencinta Lagu) Unpad, tersenyum.

Pijakannya tetap tidak berubah, memeluk alam dalam setiap napas karyanya. Karena itu, sarjana jebolan Fakultas Pertanian Universitas Padjdjaran angkatan 1965 ini diganjar beberapa kali penghargaan semisal Anugrah Kebudayaan dari negara (2009),  Satyalancana Wirakarya dari Presiden IR (2007), Penghargaan Kawakami Prize, World Song Festival di Tokyo Jepang untuk lirik lagu "Burung Camar" (1985). Lagunya "Melati dari Jayagiri" dan "Flamboyan" masuk lagu legenda dan diabadikan Majalah Rolling Stone dunia. Kini, diusia senja (67), Iwan Abdurachman tetap masih mampu menghibur pencintanya dari yang muda hingga kakek-kakek. (Ode)**

.

Categories:Musik,