Pro Kontra Komentar "Blog Daeng Ipul"

Pro Kontra Komentar

Ilustrasi Foto.(Foto:Net)

Bandung- Tulisan Daeng Ipul dengan judul "Saya Benci Ridwan Kamil" yang ditulisnya 8 Januari 2015 menuai pro dan kontra bagi para pembaca.  Ada yang menanggapi tulisan daeng dengan berbagai hujatan dan ada pula yang memuji kehebatan tulisannya. 

Tulisan daeng sebagai haters Ridwan Kamil pun sempat ditulis oleh wartawan cikalNews. (Baca: Daeng Ipul: Saya Benci Ridwan Kamil) Banyaknya komentar di awal yang menghujat daeng termasuk CikalNews ini membuatnya kesulitan, padahal maksud dari isi tulisan tersebut adalah daeng ingin menyindir Walikota Makassar, sehingga ditulisnya kembali tulisan dengan judul "Azab Pembenci Ridwan Kamil" yang ditulisnya 12 Januari 2015.
 
Tulisan dengan bahasa sarkasme yang ditulis daeng memang banyak disalah artikan oleh para pembaca, banyak masyarakat Kota Bandung yang membaca isi tulisannya sudah panas duluan dengan melihat judul yang ada tanpa memahami betul apa maksud tulisan daeng ini.

 Hal ini dilihat dari salah satu komentar di blog daeng Ipul
"Kenapa anda tidak mencoba saja menjadi walikota? mungkin dengan anda mencalonkan diri sebagai walikota ,anda akan lbh hebat dari walikota kami ridwan kamil . percuma berkeluh kesah di media seperti ini tapi anda sendiri tidak berbuat apa apa utk kota anda!  klo ada ide cemerlang utk menjadikan kota anda menjadi kota yg tenar dan modern,coba buktikan dengan kemampuan yg anda miliki..memang ridwan kamil basicnya sebagai arsitek,namun di negeri yg mengadopsi sistem demokrasi seperti ini,siapa saja boleh menjadi pemimpin apapun basicnya yg penting jika punya ide brilian dan bisa membangun negerinya atau kotanya menjadi lebih baik kenapa tidak? Berpikir pintar sebelum mengkritik adalah contoh manusia unggul dan kreatif !!" tutur ervin mengomentari tulisan daeng
 
Komentar ervin tentunya membuat pembaca yang mengerti maksud dari tulisan daeng ini ikut menanggapi.
 
"Kakak Ervien, ini namanya kritik, atuh. Masa warga mau mengkritik pemimpinnya malah disuruh mengajukan diri sebagai walikota. Kalo gitu bakalan nggak ada kritik lagi bagi pemimpin, dong. ???? Selain itu, ini namanya tulisan satir dan sarkas, atuh. Alih-alih benci Ridwan Kamil, ini penulisnya sebenarnya justru memuji Ridwan Kamil. Jangan-jangan dulu Kakak Ervien bolos pas pelajaran Bahasa Indonesia, yaaa? Hehehe. Begini, Kak. Jadi dalam Bahasa dan Sastra Indonesia itu ada yang namanya majas, ada yang namanya tulisan satir. Contoh majas misalnya gini: “Bagus benar tulisanmu, sampai membuatku tidak bisa membacanya.” Nah, ini namanya majas ironi. Awalnya tampak memuji, padahal sebenarnya mengkritik. Nah, ini contoh tulisan satir, maknanya sebaliknya. Yuk, pelajari Bahasa Indonesia lebih dalam lagi. ????" tulis Dhiya memberikan tanggapan dari komentar yang ada.
 
Kebebasan berekspresi di media online memang terkadang membuat masalah yang tidak pernah diharapkan. Pandangan seseorang ketika membaca sebuah tulisan pun beragam sehingga munculnya kesalah pahaman bagi pembaca maupun orang-orang yang ikut komentar dalam menanggapi tulisan di blog Daeng Ipul.
 
"Berawal dari sebuah niat yang disampaikan dengan cara sarkas dan berakhir dengan kehebohan yang malah merepotkan saya sendiri. Mungkin ini memang azab buat saya, azab karena saya “membenci” Ridwan Kamil. Duh, maafkan saya Kang. Bukan maksud saya seperti itu" ujar Daeng Ipul dalam Azab Pembenci Ridwan Kamil dalam menanggapi tulisan sebelumnya.(Ode)**
.

Categories:Bandung,
Tags:bandung,